Surat untuk Tuhan (Jika Dia beneran ada)
Kepada Yth. Tuhan (Jika Anda beneran ada)
Ya Tuhan, saya rasa Anda sudah tahu apa yang hendak saya adukan dan apa yang saya gugat pada Anda. Anda (katanya) Maha Tahu jadi saya yakin Anda mengerti semua tindakan dan rencana saya.
Ya Tuhan, apa saya tidak boleh punya hidup?
Kenapa saya tidak pernah diizinkan mengambil jalan yang saya inginkan?
Ibu saya bilang dia pernah dipecat ketika sedang hamil dan membanding-bandingkannya dengan apa yang terjadi pada saya. Katanya itu jauh lebih menyakitkan dari tatapan dosen-dosen zalim di GKA dan nilai saya yang diputuskan semena-mena. Tapi itu kan PILIHANNYA. Dia sendiri yang pilih buat nikah sama Bapak saya dan punya anak. Sedangkan saya menanggung konsekuensi atas apa yang dia putuskan untuk saya.
Tuhan, saya tidak perlu merinci kan, apa yang saya alami tujuh tahun terakhir? Masih lekat di benak saya perlakuan dosen-dosen Biologi dan orang-orang yang menganggap saya cacat. Juga mereka-mereka yang mencaci saya di belakang. Kenapa saya harus mengemban tanggung jawab yang dibebankan orang lain pada saya?
Tuhan, mengapa Anda tetapkan bahwa Ibu boleh marah sama anaknya tapi anak tak boleh marah sama ibunya? Kenapa Ibu bebas mencaci maki anaknya dengan kata-kata kasar dan sumpah serapah dan tidak pernah mau meminta maaf bila ia salah? Kenapa masa kecil saya harus mengalami saat-saat Ibu saya sudah pegang pisau mau memotong leher saya sampai saya sujud-sujud takut mati dan dipanggil ”perek” saat saya bahkan belum tahu apa itu artinya ”perek”?? (Well, sejujurnya sekarang saya menyesal sih, kenapa juga waktu itu saya gak jadi dibunuh aja…)
Tuhan, kenapa adik-adik saya diperlakukan berbeda? Kenapa cuma saya yang ditampar, dijambak, dipukuli dan dicaci maki? Kenapa cuma teman-teman dan guru-guru saya yang dilabrak oleh Ibu saya? Padahal adik saya dibayari sekolah begitu mahal dan bawa pulang IPK jeblok dan nilai E (I mean, E!! Coba Anda ingat bagaimana saya diperlakukan saat nilai saya turun, wahai Tuhan!!! Dan saya tak pernah dapat nilai E!!). Saya juga tidak pernah mencaci maki balik Ibu saya seperti yang adik saya lakukan. Tapi dia tidak pernah dimarahi seperti Ibu saya memaki saya!!
Kenapa Anda tetapkan istri tidak boleh memaki suaminya? Lihat apa yang terjadi! Tiap Ibu saya marah sama Bapak saya, saya lah yang kena maki! Setelah puas mengeluarkan sumpah serapah dan perlakuan kasar barulah dia bilang ”sebenernya itu papa yang bikin mama marah” atau ”kan karena papa yang bikin kacau” atau… YA ANDA TAHU LAH…! Dan Ibu saya bahkan tidak pernah mau minta maaf saat dia salah!
Tuhan, kenapa anda berikan freepass kepada para Ibu untuk men-cap anaknya durhaka saat mereka melawan namun tidak memberikan hak yang sama pada anak-anak saat mereka disakiti orangtuanya? Kenapa Anda bisa mengaku-ngaku bahwa Anda Maha Adil?
Tuhan, kenapa anda perbolehkan para Ibu untuk mencaci maki anak-anaknya dan berkuasa penuh atas hidup anak-anaknya sampai dia mati? Bukankah (seharusnya) Anda tahu apa yang saya lakukan selalu salah di mata Ibu saya. KENAPA SAYA SELALU DIRUGIKAN DALAM MASALAH INI???
Tuhan, saya sayang sama Ibu saya. Beliau wanita yang hebat dan Anda tahu persis bagaimana saya memuja Ibu saya. Saya juga tahu Ibu saya baik sama saya. Tapi bisakah Anda menjauhkan mulut dan tangannya dari saya? Sepertinya hidup saya lebih tenang jika jauh dari Ibu saya. Bisakah Anda menyuruhnya sabar dan suruh dia lihat apa yang telah dilakukan anak-anaknya untuk dia. Tentunya tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dia lakukan, tapi hei, lihatlah saya dan adik-adik berusaha menyenangkan dia. Bisakah anda mengunci mulutnya agar kerjanya tidak mengomel-ngomel saja?
Tuhan, Bapak saya pernah bilang kalau Ibu saya dulu selalu tidak akur sama nenek saya makanya dia minta kawin sama Bapak saya. TUHAN, KENAPA ANDA BANTU IBU SAYA KELUAR DARI RUMAH NENEK SAYA DAN ANDA TIDAK BANTU SAYA KELUAR DARI RUMAH IBU SAYA???????
Tuhan, dengarlah. Saya tidak minta macam-macam. Sekarang saya tidak minta kawin. Meskipun sebagai perempuan saya pastinya juga kepingin nikah baik-baik sesegera mungkin. Tapi Tuhan, bantulah saya mendapatkan pekerjaan yang baik yang setidaknya mampu mencukupi hidup saya sendiri.
Saya cuma ingin bahagia, Ya Tuhan.
Sudah cukup dua puluh empat tahun saya menerima perlakuan kasar yang tidak bisa saya tolak (waktu saya kecil belum ada KOMNAS Perlindungan Anak dan kalaupun ada saya juga tidak tahu harus ngadu kemana). Dan Anda tahu saya tidak berlebihan dalam hal ini.
Tuhan, saya tahu Anda marah mendengar gugatan saya ini. Tapi sudah lama saya tidak se-sakit hati ini sama Ibu dan Bapak saya. Terakhir kali… Anda tahu lah persisnya kapan. Dan saya berterima kasih sekali atas dikabulkannya doa-doa bodoh saya pada waktu itu. (Andai saja saya tahu Anda benar-benar akan mengabulkan, tentu saya akan meminta hal-hal yang lebih baik)
Tuhan, Anda tahu kan mata saya sekarang sudah seperti jam weker otomatis melek jam tiga? Anda berjanji akan mengabulkan doa-doa hamba-Mu yang bersujud di akhir malam. Sekarang saya tagih janji Anda wahai Tuhan!! Bantulah saya. Saya lakukan semaksimal mungkin apa yang bisa saya lakukan (Anda lihat saya benar-benar melakukannya!) dan bantulah mengenai hal-hal yang diluar kuasa saya.
Terima kasih telah mendengarkan keluhan saya wahai Tuhan. Terima kasih juga telah mengirimkan makhluk baik yang mau sabar menghadapi saya.
Nb:
Saya tahu saya hamba yang nakal dan maruk. Tapi kalau boleh, bisakah Anda bantu berhentikan darahnya? Saya kepingin sholat dan puasa kayak kemarin.






