Detoksifikasi Hati: Day 4

Nggak banyak hal yang spesial hari ini. Minim, malah..

Diawali dengan pagi yang.. yeah,, kena ceramah lagi. Masalah fisik juga agak menurun dibandingkan kemarin. Tapi yang nggak biasa, aku nggak terlalu memusingkan hal-hal tersebut. Yang mana biasanya bikin aku uring-uringan seharian, atau aku tumpuk di dalam pikiran sebagai cadangan bahan peledak. Tapi hari ini nggak. Belakangan, aku menyadari satu peningkatan aktualisasi diri bahwa aku mulai bisa menghadapi sesuati dengan lebih santai.

Malam sebelum tidur adalah malam yang sepi. Nggak ada senyuman yang mengantarku tidur dan nggak ada cengiran yang mengembang ketika bangun. Tapi pagi ini ada hal yang membuatku nyaman. Well, kalau “nyaman” adalah kata yang tepat. Aku nggak bisa menemukan perbendaharaan kata yang lebih sesuai untuk mood ku hari ini.

Pangeranku menyapa pagi ini dan efeknya seperti morphin. Sebenarnya aku juga gak begitu ingat efek morphin itu seperti apa. Aku cuma ingat dosis yg superminim (sepersepuluh dosis orang normal) yang diberikan padaku pasca thymectomy bisa membuatku berhenti teriak-teriak semalaman. Yak, kurang lebih seperti itu. Aku tenang seharian. Siangnya, aku terlelap agar malam ini bisa kembali melakukan ritual urban yang tadi malam terlewatkan. Seperti lagu Pretty Boy nya M2M jaman SMU,

“I lie awake at night, see things in black and white…”

Buruknya, aku jadi malas mengerjakan skripsi. Aku butuh suntikan semangat. Jelas sekali. Sejauh ini belum ada yang bisa memberikan tambahan semangat untuk hal apapun. Well, ada satu dua orang. Tapi sudah lama sekali rasanya.

Namun hal yang terbaik justru datang saat dibutuhkan. Meski jalannya agak bermasalah. Sore-sore pacar(??)ku agak bete sepertinya karena “cinta sejati”nya dicela. Ihihiiiiiyy. Maaf deh, memang aku bilang “aku nggak main sama kaum marjinal”. Dia langsung muntab kayaknya,, membela sang “cinta” dengan mengatakan sang “cinta” banyak yang ngejar, badannya yg kecil lucu buat diangkat2 (sepertinya dia kena polio kali ya, atau genetisnya jelek jadi badannya kurang berkembang) dan bla bla bla..

Hal itu membuatku jadi agak waras dan berpikir sedikit seperti Angling. Ada banyak cewek lucu-kecil-imut and even cuter than her. Than me, for sure. She may be glowing, but come on.. every girl is glowing in someway!! But.. she doesn’t SHINE. Nggak ada satu hal pun yang bikin dia tenar di kampus atau dimanapun selain ketergila-gilaan pacar(?)ku terhadapnya*.

Kontraindikasinya, hal itu juga membuat semangat PLUS fokus ku ter-recovery secara cepat. Membuatku kembali berkaca diri. Aku mengingat kembali mengenai satu pemahaman bahwa salah satu cara menilai seseorang (yang kugunakan dalam klasifikasi kaum marjinal) adalah dengan melihat apa yang telah ia lakukan untuk agamanya, negaranya dan sesamanya. Dulu aku sempat berpikiran untuk memasukkan kata “keluarganya” namun belakangan melihat betapa banyak intervensi ego pribadi yang berperan dalam sebuah keluarga. Plus dengan serentetan masalah yang kualami belakangan ini, aku semakin yakin bahwa urusan keluarga tak layak diperhitungkan dalam penilaian kualitas manusia.

Dengan pertimbangan itu, segera menyadari bahwa aku masih belum bisa memenuhi tiga kriteria tersebut. Itu adalah standar yang kubuat untuk diriku sendiri, dengan menerapkan standar proses “bila ingin menjadi orang hebat, maka bergaullah dengan orang-orang hebat, berpikirlah dan bertidaklah seperti orang hebat” sejauh ini aku hanya berhenti di tahap pertama.

Aku harus melakukan sesuatu. Atau aku akan berakhir sama dengan si cewek marjinal. Dan buatku, hal itu sungguh nista.

Ada satu keinginanku sedari dulu, begitu aku menyadari bahwa aku bisa mati kapan saja, dengan MG sebagai katalis tentunya, aku ingin ketika aku mati, aku tidak menyesali hidupku. Ironisnya, sejauh ini hidupku sangat cukup layak untuk disesali. Aku sadar betul akan hal itu. Untuk itu aku harus melakukan hal besar, aku ingin mati meninggalkan sesuatu yang berdampak besar bagi sesame manusia, bukan hanya meninggalkan nama di batu nisan dan memori di kepala segelintir orang yang akan hilang begitu mereka juga mati. Bukan supaya namaku dikenang, bukan supaya aku terkenal, tapi lebih merupakan tanggung jawab pada diri sendiri dan yang menciptakan. I mean, ayolah.. kita ada di dunia ini bukan cuma untuk makan-tidur-beranak-memperkaya diri terus mati begitu saja kan???

And I’m working on it. Dan setiap hari kuucapkan bismillah, berusaha membangun jalan setapakku sedikit demi sedikit menjadi jalan tol tiga lajur. It will take years, dan apabila menurut anggapan umum aku hanya melakukan sesuatu yang tak berguna, sebenarnya dengan membangun sesuatu untuk sesamaku, aku juga sedang membangun diriku sendiri. Toh aku juga yang akan menikmati jalan tersebut. Menjadi kuli proyek juga gak buruk-buruk amat, bisa sekalian fitness dan membentuk badan menjadi bootylicious. And when I’m done, aku akan meninggalkan para kaum marjinal itu yang terpaksa minggir di ghetto area.

Aku jadi inget Enisa.. dan juga skripsiku.

Thank God.

Jadi untuk malam ini, menunya memikirkan lines untuk proyek Enisa, mengerjakan skripsi, melakukan ritual urban dengan pangeranku seraya tetap bernyanyi, “I lie awake and pray, that you will look my way…” dan memaksa otakku untuk kembali dari memori mengenai satu hal, di suatu waktu…

“He sent her a message, in the middle of the night, calling her, ‘lolabugsie’…”

Advertisement

~ by mahabarista on October 6, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.