Detoksifikasi Hati: Day 3
Pelajaran yang aku dapat hari ini adalah mengenai kejujuran. Terutama kejujuran pada diri sendiri.
Hari ini ku awali dengan pagi yang baik. Sayangnya, baik tidak selalu menyenangkan. Tapi pagi ini aku belajar untuk jujur, dan mengungkapkan kejujuran pada orang lain. Atau tepatnya, pada orang yang kepadanya selama ini kututupi kejujuranku dengan berbagai macam bedak beraneka warna.
Aku mengakui padanya hari ini, bahwasanya aku tengah menjalani hubungan yang sangat-sangat buruk. Hubungan semu, dimana para stakeholdernya sama-sama meragukan akan tercapainya aktualisasi diri dan kebahagiaan apabila mereka terus bersama. Dan juga dilalui secara sadar bahwa dalam hubungan tersebut terdapat unsur keharmonisan yang sangat minim, tingkat kesesuaian lahan “sangat buruk sekali”, over carrying capacity, tidak adanya chemistry dan peningkatan rasa keragu-raguan yang sangat cepat seperti tomat yang baru masak fisiologis setelah diberi ethylene.
Aku melihat kekecewaan besar di matanya, membiarkan dia mengeluarkan isi kepala dan luapan emosinya padaku pagi ini, dan jadilah aku menghadiri kelas “bagaimana menjadi perempuan yang baik” selama dua jam, menatap dosenku yang entah bagaimana sehingga pada pagi ini ku merasa, “ah ya, dia memang sudah banyak makan asam garam.”
Aku membuat kecewa dosenku, namun aku merasa sedikit ringan. Aku ungkapkan apa keluhanku selama ini, sehingga tidak bisa memenuhi standar pemenuhan tugas yang baik. Aku membuat ia terkejut, sedih, emosi, tapi nyatanya ia berpikir juga. Mudah-mudahan dia ikhlas, pikirku. Mudah-mudahan dia memaafkan aku.
Aku cukup dihantui rasa bersalah pagi ini. Aku tak yakin harus berbuat apa, mengerjakan apa, dan yang pasti aku malas mandi. Tapi kalau kalian pikir aku perempuan jorok yang memang sudah biasa mandi seminggu sekali, maaf saja. Apabila otakku sedang bekerja normal, aku bisa mandi sehari empat kali. Ganti baju adalah hobi keduaku setelah ganti-ganti wangi sabun. Serius.
Kalau hari kemarin aku merasa perlu re-detoks, setidaknya hari ini perasaanku jauh lebih ringan. Mungkin efek kejujuran tadi pagi. Sungguh deh, ternyata sebuah kejujuran membawa efek yang cukup besar bagi seorang yang biasa berbohong seperti saya. Bahkan selain membawa dampak emosional, kejujuran juga berdampak secara fisiologis. Hari ini saya kembali rujuk dengan pantyliners.
Hampir setengah hariku kuhabisakan dengan seorang kawan datang berkunjung. Hebat, tidak banyak orang yang mampu menempuh Depok-Pamulang dengan kondisi MG cukup serius: mata ptosis dan blurry speech. Sejauh ini saya baru ketemu satu pasien nekat. Ya dia itu, selain saya tentunya.
Setengah hari membicarakan MG dan bergosip dengan pria ganteng (yang kebetulan beberapa hari belakangan ini naik pangkat jadi idole MGers. Thanks to me) sedikit banyak memberi pengaruh untuk hari ini. Kalkulasinya seperti ini, menghabiskan setengah hari = membuang banyak waktu untuk berpikir negatif = menyisakan beberapa pikiran positif = hatiku nggak merana-merana amat.
Residunya, pengalaman setengah hari itu membuat pacar (?) ku bertingkah agak aneh hari ini. Sebenarnya mulai semalam, tapi mulai siang ini makin aneh. Mirip badak disuruh berenang. Maksudku, mengingat hubungan kami yang semu dan tidak sehat sebagaimana telah diuraikan pada paragraph ketiga, sulit rasanya menemukan alasan mengapa dia bertingkah seperti itu. Dan sejujurnya saya takjub, mungkin sama takjubnya bila saya lihat ada cacing bisa terbang.
Eniwei, lupakan cacing tersebut. Kalaupun di-filem-kan, rasanya tidak akan laku di pasaran.
Satu kejujuran lagi kuutarakan sore hari. Setengah jujur, bisa dibilang. Kenapa setengah? Karena menurutku itu tidak penting. Hanya pengantar ritual satu huruf yang pada hari ini kulakukan –ehm– lima kali. Sialnya, kejujuran sore ini malah mengantarku pada tangis yang meledak, pada akhirnya. Setelah kutunda-tunda, akhirnya keluar juga. Mengingatkanku pada kekejamanku pada jiwa yang tak berdosa, satu hal yang benar-benar tidak ingin kuingat saat ini.
Tapi sepertinya justru ini yang kubutuhkan, meski tidak kuinginkan. Mengeluarkan semua, mengakui kesalahan, ikhlas menerima akibat dan mengungkapkan kejujuran. Plus satu hal yang dititipkan ibu saya sebelum pergi; kali ini bermainlah dengan logika.
Logika harus mengalahkan hati, dan logikaku bicara, “kamu tidak boleh lagi jatuh cinta. Tidak sekarang. Bersihkan dulu semua cinta yang berkerak di hatimu dan tanam bibit yang baru lagi.”
Sayangnya cinta bagaikan kanker stadium 3 di hatiku yang busuk dan porous ini. Sudah menyebar ke segala bagian, merusak organ vital, telah berurat akar dan memiliki jaringan pembuluh darah sendiri. Angkat sekarang, atau biarkan beberapa saat lagi maka jadilah aku Almarhumah.
Aku tidak melebih-lebihkan. Almarhumah kanker rahim, payudara, ovarium, pada akhirnya menempati kontrakan 2×1 dalam waktu singkat. Almarhumah kamker cinta bisa sedikit lebih beruntung, menikmati kontrakan tipe 21 yang isinya ruang depan, kamar mandi dan dapur yang jadi satu memanjang ke belakang plus satu suami psycho dan satu anak tak ber-akte.
Maka sadarlah aku bahwa diperlukan suatu operasi pengangkatan cinta*, namun tak kutemukan ahli bedah yang bisa mengangkat tumor ganas tersebut selain diriku sendiri. Maka sore ini, sebelum tangisku makin menjadi-jadi, kucari sumber oksigen ditengah sesakku. Tidak, aku tak boleh jatuh lagi pada kamu, tak boleh lebih dari ini dan harus segera kukurangi.
Kulayangkan ingatanku, pada satu hari, di suatu waktu…
“…He drove her home, riding his motorcycle, talking about silly things, finally he said goodbye in German, and she said ‘arrivederci’…”
*) mungkin namanya bakal jadi Cintatomy.







what a lovely story