Detoksifikasi Hati: Day 2
Apa yang terjadi pada hari pertama kemarin cukup membuatku merasa lebih baik hari ini. Aku semalam tidur dengan diantar oleh senyuman, atau hal yang cukup membuatku tersenyum-senyum sendiri selama beberapa waktu dan membuatku bangun dalam keadaan tersenyum-senyum juga.
Pagi ini aku bangun hampir jam delapan. Melewatkan ritual jam tiga sampai jam lima yang biasa dilakukan, dibangunkan oleh suara mamaku yang anehnya, membangunkanku dengan cara yang tidak biasanya.
Mama naik ke kasurku. Merampas buku Eat Pray Love yang teronggok dengan jumawa disampingku. Memintaku bergeser dan memberi tempat untuk dia ikut rebahan. Jujur saja, kasurku cukup sempit untuk ditempati emak dan anak gajah. Jadilah aku merapat ke dinding, meniban ponselku yang kemudian kusadari sudah cukup ringsek untuk kutambah beban badanku. Akhirnya aku bangun.
Hari ini badanku lelah sekali dan pegal-pegal. Jadilah kerjaku hari ini hanya makan, tidur dan online. Pagi ini pacarku menelepon, dan untunglah, hari ini sepertinya belum ada kesempatan buat berantem. Jarang-jarang terjadi. Sumpah. Kuperkirakan ini efek dari aku yang baru saja bangun, atau mood yang cukup baik menjelang tidur, atau pikiranku yang selama sambungan telpon menyala entah ada dimana. Ups, maaf… Aku tahu pikiranku ada dimana.
Aku melakukan sesuatu yang kusebut dengan ritual satu huruf sebanyak tiga kali hari ini. Tak akan kuceritakan bagaimana konkritnya, tapi yang terakhir membuatku tersadar bahwa hidupku belakangan ini agak ganjil.
Seperti yang kubilang, hidupku semenjak 5 januari merupakan malapetaka. Setelah awal Juni, rasanya seperti habis minum racun tikus. Tapi belakangan ini sepertinya agak mendingan. Seakan ada yang menambah wangi lavender dalam racun tikus tersebut. Masih menyesakkan, membuat hati bolong-bolong, otak keropos, tapi agak “wangi-wangi dikit”.
Aku mencari apa yang berubah. Dan aku segera tahu. Aku selama ini mengira bahwa ada satu hal yang nggak akan bisa hilang dari hidupku, atau pikiranku, tepatnya. Tapi ternyata aku salah. Ku mencoba mengingat apakah hari ini aku sudah memikirkan hal tersebut, sebagaimana biasanya, sudahkan itu merasuki otakku, imajinasiku, mimpiku hari ini? Tapi ternyata belum. Sampai aku menulis ini, well, belum. Dan sungguh mengejutkan, aku menyadari bahwa hal itu telah tergantikan.
Aku mengingat, siapa yang mengganti? Kapan? Aku tidak merasa… Wait! Ada satu hari dimana aku mengantri mocha float dan aku menyuruh orang yang berdiri di belakangku untuk duduk. Aku menyuruhnya menjauh dariku dengan cara yang agak sarkastik memang, tapi sebenarnya bukan karena aku tidak nyaman. Aku hanya merasa… ganjil.
Sayangnya keganjilan beraroma lavender ini bekerja seperti candu. Membuat tenang sesaat, tapi menggerogoti perlahan dan ujung-ujungnya membuatku berteriak, “I want it more!!!” Dan jelas sekali, aku tidak membutuhkan hal-hal aditif seperti itu saat ini.
U know, tujuh belas kali pacaran sama saja dengan tujuh belas kali mengalami kecelakaan di jalan yang meninggalkan sepuluh cacat permanen di bagian muka. Merusak syaraf, menghilangkan estetika dan alhasil membentuk diriku menjadi perempuan super frigid. Belum lagi hal-hal diluar masalah hati yang aku tak bisa menghitung berapa jumlahnya. Tapi yah, hampir dari semua luka itu kudapat setelah aku mengenal dunia kampus. Aku jelas tidak membutuhkan candu yang pada akhirnya membuatku mengalami kecelakaan lagi. Tidak hari ini, tidak besok, tidak sekarang.
Mungkin agak terlalu ekstrim dengan mengasosiasikan hal itu dengan candu. Mungkin agak lebih ringkas kalau aku sandingkan dengan donat. Yah, untuk saat ini kurang lebih sama. Seperti ketika aku pertama kali memakan donat coklat J.Co. Merasa tidak cukup satu, dan tidak pernah cukup…
I have to fix this, clearly.
Aku mengisi perutku dengan dua porsi pasta plus saus yang banyak hari ini. Makan chocolate chip cookies dan tempura, tidur, membaca buku, chatting, main game… Kulupakan sejenak skripsi dan “hal yang mengganggu kesehatan” belakangan ini. Membebaskan pikiranku untuk berkelana semaunya, namun ternyata pikiranku tidak kemana-mana. Ia ada disitu, membawa kembali memori di satu hari, di suatu waktu…
“They met at a park, hang around riding his motorcycle, talking about silly things, then they went to the movie, and finally, they end up kissing, inside the elevator…”
It’s official. I need to re-detox.






