Akhirnya setelah membebaskan hatiku dari menulis di hari ke-5 dan ke-6, akhirnya aku mulai melaporkan proses detoks ku lagi.
Apa yang terjadi padaku selama belakangan ini cukup mengubah segala sesuatunya secara signifikan. Aku melihat hatiku sebagai sesuatu yang korosif, seperti logam yang telah keropos, tidak cuma berkarat namun sudah bolong-bolong. Dengan sedikit kewarasan yang tersisa, aku menyadari bahwa aku harus mencari sebotol cairan asam untuk segera mengenyahkan karat-karat kuning orangye tersebut, menggosoknya, meski dengan resiko malah akan semakin berkarat. Tapi itulah yang kulakukan, karena aku tak mau punya anggota tubuh yang ringsek.
Aku menemukan sebotol cuka, kuencerkan dengan air, dan kurendam hatiku disana selama beberapa hari. Atau beberapa minggu, mungkin. Ternyata prosesnya menyakitkan. Karat-karat yang berkerak itu sedikit demi sedikit terlepas, melebur dengan cairan asam, tapi juga mambuat luka-luka baru. Rasanya sungguh tidak jelas. Mungkin sudah terbiasa dengan sakitnya, jadi apa yang terjadi tidak dapat dirasakan lagi. Ada juga rasa rindu yang aneh pada karat tersebut, bagaimanapun, hatiku sudah terbiasa dengan keberadaannya.
Sebenarnya ada banyak cairan anti karat yang beredar di pasaran, baik yang dijual di superstore, melalui MLM maupun melalui TV shopping. Masalahnya cuma satu, harganya kemahalan. Akhirnya cairan anti karat superampuh itu hanya berakhir dalam angan-anganku.
Entah telah berapa lama aku membenamkan hatiku dalam larutan cuka. Menikmati rasanya, membiarkan reaksi kimia terjadi antara hatiku, karat-karat bodoh dan cairan tersebut. Lumayan. Setelah beberapa lama aku merasa hatiku sudah jauh lebih baik. Memang ada karat-karat baru yang terbentuk, namun lebih banyak yang terbuang. Alhamdulillah.
Lucunya, malam itu aku disadarkan oleh suatu fakta bahwa ternyata aku telah mendapatkan cairan antikarat supermahal yang selama ini hanya tertinggal di imajinasiku, secara cuma-cuma. Reward dari kerja kerasku membersihkan WC di hyperstore selama berbulan-bulan. Anggaplah bonus.
Aku seperti menang undian. Kalau mau hadiahnya, harus bayar dulu pajak hadiah 15 persen. Aku harus memutuskan, membiarkan hatiku terbenam di larutan cuka, menikmati prosesnya pelan pelan dan entah apa yang terjadi di belakang, aatu mengangkat hatiku dari cairan asam tersebut dan mengambil hadiahku?
Aku memilih opsi yang kedua. Kuangkat hatiku pelan-pelan, dan mengikhlaskan cairan yang telah mengobati hatiku itu untuk dibuang. Hidup itu pilihan, yang apabila kita telah memilih, harus dijalani dengan segala konsekuensinya. Kadang memang harus ada pengorbanan, memang selalu ada..
Ternyata efeknya ajaib. Seperti yang diiklankan di tipi-tipi, hatiku tak perlu berkubang lama-lama. Cukup sekali gosok, lenyap semua noda kuning oranye jelek tersebut. Ternyata memang cairan itulah yang aku butuhkan. Aku sampai takjub tidak percaya, tidak terlalu senang, tidak terlalu sedih, hanya takjub saja.. Tak menyangka manusia yang kesialannya mendarah daging seperti aku bisa menang undian.
Aku merasa hatiku kini menjadi jauh lebih sehat. Rasanya ibarat pasien yang baru lepas ventilator. Lega.. Tapi masih butuh recovery beberapa waktu.
Hampir bersamaan dengan kembalinya sesuatu dalam hidupku, sesuatu yang lain justru pergi. Ponselku.
Di hari berikutnya aku mengalami pelanggaran privasi besar-besaran. Seorang yang tidak bertanggungjawab, merasa tahu segalanya dan menganggap dirinya menguasai dunia macam penjahat di filem-filem kartun telah memasuki daerah privasiku. Menjadikan segala urusanku sebagai alasan untuk menyerang.
Sebagian besar kemarahannya beralasan. Tapi hey, ini kan masalahKU. Aku saja tidak sebegitu marahnya. Dia hanya menemukan beberapa keeping puzzle dari kesatuan yang seukuran dinding mall, bisa beraksi seperti itu. Bagaimana dia bisa berpikir bahwa aku tidak cukup berusaha untuk menyusunnya kembali semuanya sehingga dia berhak mengambil alih pemyusunan tersebut??
Tapi tak apa. Aku tak mau ambil pusing untuk kali ini. Aku memang tak bisa memilih dan mengubah dunia dimana aku hidup. Aku hanya bisa mengubah diriku sendiri dan memperjuangkan kebahagiaanku dengan tanganku sendiri.
Peristiwa pelanggaran privasi itu sedikit membuat hatiku yang belum sembuh menjadi sedikit lecet lecet. Lucunya, krim super ampuh anti karat ajaib tersebut ternyata bisa membantu menyamarkan lecetnya. Tapi untuk luka yang berbeda memang dibutuhkan treatment yang berbeda. Dan aku segera menemukan obatnya, di Hard disk ku.
Sex and The City. One of my favorite movies.
Bagian terbaik menurutku di filem versi layer lebar SaTC tersebut adalah ketika Carrie Bradshaw kembali untuk membangun hidupnya setelah pernikahannya hancur berantakan. Begitu mengesankan melihat betapa ia berusaha bangkit dari sakit hati, meski dikejar bayang-bayang masa lalu berupa edisi terbaru majalah VOGUE yang tersebar di seluruh amerika, bertemu dengan orang-orang yang tepat, teman baru, dan segala sesuatunya menjadi lebih baik. Jauh lebih baik pada ending nya.
AKu masih menyimpan catatan mimpi yang ditulis olehku dan teman-teman asrama ketika aku masih berani memiliki impian (baca: belum realistis). Segera aku menemukan jurang besar antara aku yang asli dengan aku yang sekarang. Dan dengan begitu malu aku mengakui bahwa pemikiranku yang sekarang, yang seharusnya jauh lebih dewasa, justru mengalami kemunduran dan –ehm- sangat banyak dipengaruhi oleh ibuku.
Sebagian besar dari keinginanku, pemikiranku dan cita-citaku ternyata Cuma aku copy dari pikiran ibuku melalui doktrin selama bertahun-tahun. Termasuk kemampuannya menghitung segala sesuatu dlam kehidupan. Hidup kerap membuat kita menjadi pedagang, ya kan? Dan aku kini menjadi pedagang yang kikir sekali…
Kubaca kembali tulisan-tulisan di balik gambar cewek dan boneka beruang itu, tersenyum sendiri sambil me-review betapa aku telah berbeda sekarang, dan betapa aku telah membuang banyak waktuku.
Dulu aku menginginkan hidup yang simpel. Berusaha hidup dengan simpel namun dengan adanya intervensi seseorang, bagaimanapun aku berusaha, hidupku tetap tidak bisa jadi simpel. Aku menginginkan hidup seperti Carrie Bradshaw. Bukan mengenai kegilaannya terhadap barang bermerek, tapi hidupnya sebagai best-selling author, sebagai teman yang baik, dan tinggal di sebuah apartemen kecil, tempat tinggal yang tidak mewah namun nyaman. Dan pernikahannya dengan Mr. Big, pada akhirnya, just food and friends, that exactly what I’ve dreamed for.
Tapi aku yang belakangan ini berbeda. Dengan segala masalah yang kualami beberapa bulan terakhir terutama, dan segala pemikiran yang aku salin dari orang lain, aku menjadi seseorang yang berbeda. Memaksakan kehendakku pada orang lain, tapi sebenarnya aku tidak yakin apa yang aku inginkan.
Akhirnya, hari ini, aku menyadari sesuatu. Mengapa hatiku bisa bolong-bolong seperti dimakan ulat, adalah bahwa aku bukan hanya memaksakan orang lain namun juga memaksakan diriku sendiri.. untuk menjadi orang lain. Untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh orang lain.
Lucu rasanya membaca catatan mimpi tersebut, seperti masuk ke pensieve dan melihat aku, enam tahun yang lalu. Aku merasa sedikit lebih muda.
Berpikir seperti orang tua membuatku merasa lebih tua, maka kukatakan pada diriku sendiri, kembalilah berpikir seperti dulu. Tak perlu menjadi orang lain, Karena tempatku berkaca sekarang adalah diriku sendiri, hanya enam tahun lebih muda dan enam level lebih waras. Tak perlu mencari-cari lagi, diriku ada dalam sebuah buku. Bawa kembali semua mimpi, dan hiduplah lebih tenang.
Jadilah hari ini aku kembali ke kampus, dengan perasaan sangat tenang. Honestly, nggak pernah sebelumnya aku merasa setenang ini semenjak masuk IPB *ya iyalah, mana ada orang tenang di neraka??*. Terima kasih pada sebotol cuka, cairan anti karat super ampuh bin ajaib, Sex and The City dan terima kasih pada diriku sendiri, yang enam tahun lalu sempat-sempatnya menulis semua mimpi dalam satu buku setiap hari, padahal saat itu aku sedang parah-parahnya menderita Myasthenia Gravis.
Serius deh, selama lima tahun belakangan aku merasa sesak bila tiba di kampus, merasa terbebani, hari ini semua itu tidak ada. Nyaris. Dan sepertinya aku merasa sedikit lebih muda. Dan akhirnya kucoba menutup semuanya, dengan satu memori di satu waktu..
“…they ride his motorcycle, across three cities, talking about silly things, laughing together, and he drops her home when the sun sets down. She kissed his hands, smiled at him and go back home.”
- FIN.










Recent Comments