Detoksifikasi Hati: Day 7

•April 11, 2011 • 4 Comments

Akhirnya setelah membebaskan hatiku dari menulis di hari ke-5 dan ke-6, akhirnya aku mulai melaporkan proses detoks ku lagi.

Apa yang terjadi padaku selama belakangan ini cukup mengubah segala sesuatunya secara signifikan. Aku melihat hatiku sebagai sesuatu yang korosif, seperti logam yang telah keropos, tidak cuma berkarat namun sudah bolong-bolong. Dengan sedikit kewarasan yang tersisa, aku menyadari bahwa aku harus mencari sebotol cairan asam untuk segera mengenyahkan karat-karat kuning orangye tersebut, menggosoknya, meski dengan resiko malah akan semakin berkarat. Tapi itulah yang kulakukan, karena aku tak mau punya anggota tubuh yang ringsek.

Aku menemukan sebotol cuka, kuencerkan dengan air, dan kurendam hatiku disana selama beberapa hari. Atau beberapa minggu, mungkin. Ternyata prosesnya menyakitkan. Karat-karat yang berkerak itu sedikit demi sedikit terlepas, melebur dengan cairan asam, tapi juga mambuat luka-luka baru. Rasanya sungguh tidak jelas. Mungkin sudah terbiasa dengan sakitnya, jadi apa yang terjadi tidak dapat dirasakan lagi. Ada juga rasa rindu yang aneh pada karat tersebut, bagaimanapun, hatiku sudah terbiasa dengan keberadaannya.

Sebenarnya ada banyak cairan anti karat yang beredar di pasaran, baik yang dijual di superstore, melalui MLM maupun melalui TV shopping. Masalahnya cuma satu, harganya kemahalan. Akhirnya cairan anti karat superampuh itu hanya berakhir dalam angan-anganku.

Entah telah berapa lama aku membenamkan hatiku dalam larutan cuka. Menikmati rasanya, membiarkan reaksi kimia terjadi antara hatiku, karat-karat bodoh dan cairan tersebut. Lumayan. Setelah beberapa lama aku merasa hatiku sudah jauh lebih baik. Memang ada karat-karat baru yang terbentuk, namun lebih banyak yang terbuang. Alhamdulillah.

Lucunya, malam itu aku disadarkan oleh suatu fakta bahwa ternyata aku telah mendapatkan cairan antikarat supermahal yang selama ini hanya tertinggal di imajinasiku, secara cuma-cuma. Reward dari kerja kerasku membersihkan WC di hyperstore selama berbulan-bulan. Anggaplah bonus.

Aku seperti menang undian. Kalau mau hadiahnya, harus bayar dulu pajak hadiah 15 persen. Aku harus memutuskan, membiarkan hatiku terbenam di larutan cuka, menikmati prosesnya pelan pelan dan entah apa yang terjadi di belakang, aatu mengangkat hatiku dari cairan asam tersebut dan mengambil hadiahku?

Aku memilih opsi yang kedua. Kuangkat hatiku pelan-pelan, dan mengikhlaskan cairan yang telah mengobati hatiku itu untuk dibuang. Hidup itu pilihan, yang apabila kita telah memilih, harus dijalani dengan segala konsekuensinya. Kadang memang harus ada pengorbanan, memang selalu ada..

Ternyata efeknya ajaib. Seperti yang diiklankan di tipi-tipi, hatiku tak perlu berkubang lama-lama. Cukup sekali gosok, lenyap semua noda kuning oranye jelek tersebut. Ternyata memang cairan itulah yang aku butuhkan. Aku sampai takjub tidak percaya, tidak terlalu senang, tidak terlalu sedih, hanya takjub saja.. Tak menyangka manusia yang kesialannya mendarah daging seperti aku bisa menang undian.

Aku merasa hatiku kini menjadi jauh lebih sehat. Rasanya ibarat pasien yang baru lepas ventilator. Lega.. Tapi masih butuh recovery beberapa waktu.

Hampir bersamaan dengan kembalinya sesuatu dalam hidupku, sesuatu yang lain justru pergi. Ponselku.

Di hari berikutnya aku mengalami pelanggaran privasi besar-besaran. Seorang yang tidak bertanggungjawab, merasa tahu segalanya dan menganggap dirinya menguasai dunia macam penjahat di filem-filem kartun telah memasuki daerah privasiku. Menjadikan segala urusanku sebagai alasan untuk menyerang.

Sebagian besar kemarahannya beralasan. Tapi hey, ini kan masalahKU. Aku saja tidak sebegitu marahnya. Dia hanya menemukan beberapa keeping puzzle dari kesatuan yang seukuran dinding mall, bisa beraksi seperti itu. Bagaimana dia bisa berpikir bahwa aku tidak cukup berusaha untuk menyusunnya kembali semuanya sehingga dia berhak mengambil alih pemyusunan tersebut??

Tapi tak apa. Aku tak mau ambil pusing untuk kali ini. Aku memang tak bisa memilih dan mengubah dunia dimana aku hidup. Aku hanya bisa mengubah diriku sendiri dan memperjuangkan kebahagiaanku dengan tanganku sendiri.

Peristiwa pelanggaran privasi itu sedikit membuat hatiku yang belum sembuh menjadi sedikit lecet lecet. Lucunya, krim super ampuh anti karat ajaib tersebut ternyata bisa membantu menyamarkan lecetnya. Tapi untuk luka yang berbeda memang dibutuhkan treatment yang berbeda. Dan aku segera menemukan obatnya, di Hard disk ku.

Sex and The City. One of my favorite movies.

Bagian terbaik menurutku di filem versi layer lebar SaTC tersebut adalah ketika Carrie Bradshaw kembali untuk membangun hidupnya setelah pernikahannya hancur berantakan. Begitu mengesankan melihat betapa ia berusaha bangkit dari sakit hati, meski dikejar bayang-bayang masa lalu berupa edisi terbaru majalah VOGUE  yang tersebar di seluruh amerika, bertemu dengan orang-orang yang tepat, teman baru, dan segala sesuatunya menjadi lebih baik. Jauh lebih baik pada ending nya.

AKu masih menyimpan catatan mimpi yang ditulis olehku dan teman-teman asrama ketika aku masih berani memiliki impian (baca: belum realistis). Segera aku menemukan jurang besar antara aku yang asli dengan aku yang sekarang. Dan dengan begitu malu aku mengakui bahwa pemikiranku yang sekarang, yang seharusnya jauh lebih dewasa, justru mengalami kemunduran dan –ehm- sangat banyak dipengaruhi oleh ibuku.

Sebagian besar dari keinginanku, pemikiranku dan cita-citaku ternyata Cuma aku copy dari pikiran ibuku melalui doktrin selama bertahun-tahun. Termasuk kemampuannya menghitung segala sesuatu dlam kehidupan. Hidup kerap membuat kita menjadi pedagang, ya kan? Dan aku kini menjadi pedagang yang kikir sekali…

Kubaca kembali tulisan-tulisan di balik gambar cewek dan boneka beruang itu, tersenyum sendiri sambil me-review betapa aku telah berbeda sekarang, dan betapa aku telah membuang banyak waktuku.

Dulu aku menginginkan hidup yang simpel. Berusaha hidup dengan simpel namun dengan adanya intervensi seseorang, bagaimanapun aku berusaha, hidupku tetap tidak bisa jadi simpel. Aku menginginkan hidup seperti Carrie Bradshaw. Bukan mengenai kegilaannya terhadap barang bermerek, tapi hidupnya sebagai best-selling author, sebagai teman yang baik, dan tinggal di sebuah apartemen kecil, tempat tinggal yang tidak mewah namun nyaman. Dan pernikahannya dengan Mr. Big, pada akhirnya, just food and friends, that exactly what I’ve dreamed for.

Tapi aku yang belakangan ini berbeda. Dengan segala masalah yang kualami beberapa bulan terakhir terutama, dan segala pemikiran yang aku salin dari orang lain, aku menjadi seseorang yang berbeda. Memaksakan kehendakku pada orang lain, tapi sebenarnya aku tidak yakin apa yang aku inginkan.

Akhirnya, hari ini, aku menyadari sesuatu. Mengapa hatiku bisa bolong-bolong seperti dimakan ulat, adalah bahwa aku bukan hanya memaksakan orang lain namun juga memaksakan diriku sendiri.. untuk menjadi orang lain. Untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh orang lain.

Lucu rasanya membaca catatan mimpi tersebut, seperti masuk ke pensieve dan melihat aku, enam tahun yang lalu. Aku merasa sedikit lebih muda.

Berpikir seperti orang tua membuatku merasa lebih tua, maka kukatakan pada diriku sendiri, kembalilah berpikir seperti dulu. Tak perlu menjadi orang lain, Karena tempatku berkaca sekarang adalah diriku sendiri, hanya enam tahun lebih muda dan enam level lebih waras. Tak perlu mencari-cari lagi, diriku ada dalam sebuah buku. Bawa kembali semua mimpi, dan hiduplah lebih tenang.

Jadilah hari ini aku kembali ke kampus, dengan perasaan sangat tenang. Honestly, nggak pernah sebelumnya aku merasa setenang ini semenjak masuk IPB *ya iyalah, mana ada orang tenang di neraka??*. Terima kasih pada sebotol cuka, cairan anti karat super ampuh bin ajaib, Sex and The City dan terima kasih pada diriku sendiri, yang enam tahun lalu sempat-sempatnya menulis semua mimpi dalam satu buku setiap hari, padahal saat itu aku sedang parah-parahnya menderita Myasthenia Gravis.

Serius deh, selama lima tahun belakangan aku merasa sesak bila tiba di kampus, merasa terbebani, hari ini semua itu tidak ada. Nyaris. Dan sepertinya aku merasa sedikit lebih muda. Dan akhirnya kucoba menutup semuanya, dengan satu memori di satu waktu..

“…they ride his motorcycle, across three cities, talking about silly things, laughing together, and he drops her home when the sun sets down. She kissed his hands, smiled at him and go back home.”

- FIN.

Surat untuk Tuhan (Jika Dia beneran ada)

•April 4, 2010 • Leave a Comment

Kepada Yth. Tuhan (Jika Anda beneran ada)

Ya Tuhan, saya rasa Anda sudah tahu apa yang hendak saya adukan dan apa yang saya gugat pada Anda. Anda (katanya) Maha Tahu jadi saya yakin Anda mengerti semua tindakan dan rencana saya.

Ya Tuhan, apa saya tidak boleh punya hidup?
Kenapa saya tidak pernah diizinkan mengambil jalan yang saya inginkan?
Ibu saya bilang dia pernah dipecat ketika sedang hamil dan membanding-bandingkannya dengan apa yang terjadi pada saya. Katanya itu jauh lebih menyakitkan dari tatapan dosen-dosen zalim di GKA dan nilai saya yang diputuskan semena-mena. Tapi itu kan PILIHANNYA. Dia sendiri yang pilih buat nikah sama Bapak saya dan punya anak. Sedangkan saya menanggung konsekuensi atas apa yang dia putuskan untuk saya.

Tuhan, saya tidak perlu merinci kan, apa yang saya alami tujuh tahun terakhir? Masih lekat di benak saya perlakuan dosen-dosen Biologi dan orang-orang yang menganggap saya cacat. Juga mereka-mereka yang mencaci saya di belakang. Kenapa saya harus mengemban tanggung jawab yang dibebankan orang lain pada saya?

Tuhan, mengapa Anda tetapkan bahwa Ibu boleh marah sama anaknya tapi anak tak boleh marah sama ibunya? Kenapa Ibu bebas mencaci maki anaknya dengan kata-kata kasar dan sumpah serapah dan tidak pernah mau meminta maaf bila ia salah? Kenapa masa kecil saya harus mengalami saat-saat Ibu saya sudah pegang pisau mau memotong leher saya sampai saya sujud-sujud takut mati dan dipanggil ”perek” saat saya bahkan belum tahu apa itu artinya ”perek”?? (Well, sejujurnya sekarang saya menyesal sih, kenapa juga waktu itu saya gak jadi dibunuh aja…)

Tuhan, kenapa adik-adik saya diperlakukan berbeda? Kenapa cuma saya yang ditampar, dijambak, dipukuli dan dicaci maki? Kenapa cuma teman-teman dan guru-guru saya yang dilabrak oleh Ibu saya? Padahal adik saya dibayari sekolah begitu mahal dan bawa pulang IPK jeblok dan nilai E (I mean, E!! Coba Anda ingat bagaimana saya diperlakukan saat nilai saya turun, wahai Tuhan!!! Dan saya tak pernah dapat nilai E!!). Saya juga tidak pernah mencaci maki balik Ibu saya seperti yang adik saya lakukan. Tapi dia tidak pernah dimarahi seperti Ibu saya memaki saya!!

Kenapa Anda tetapkan istri tidak boleh memaki suaminya? Lihat apa yang terjadi! Tiap Ibu saya marah sama Bapak saya, saya lah yang kena maki! Setelah puas mengeluarkan sumpah serapah dan perlakuan kasar barulah dia bilang ”sebenernya itu papa yang bikin mama marah” atau ”kan karena papa yang bikin kacau” atau… YA ANDA TAHU LAH…! Dan Ibu saya bahkan tidak pernah mau minta maaf saat dia salah!

Tuhan, kenapa anda berikan freepass kepada para Ibu untuk men-cap anaknya durhaka saat mereka melawan namun tidak memberikan hak yang sama pada anak-anak saat mereka disakiti orangtuanya? Kenapa Anda bisa mengaku-ngaku bahwa Anda Maha Adil?

Tuhan, kenapa anda perbolehkan para Ibu untuk mencaci maki anak-anaknya dan berkuasa penuh atas hidup anak-anaknya sampai dia mati? Bukankah (seharusnya) Anda tahu apa yang saya lakukan selalu salah di mata Ibu saya. KENAPA SAYA SELALU DIRUGIKAN DALAM MASALAH INI???

Tuhan, saya sayang sama Ibu saya. Beliau wanita yang hebat dan Anda tahu persis bagaimana saya memuja Ibu saya. Saya juga tahu Ibu saya baik sama saya. Tapi bisakah Anda menjauhkan mulut dan tangannya dari saya? Sepertinya hidup saya lebih tenang jika jauh dari Ibu saya. Bisakah Anda menyuruhnya sabar dan suruh dia lihat apa yang telah dilakukan anak-anaknya untuk dia. Tentunya tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dia lakukan, tapi hei, lihatlah saya dan adik-adik berusaha menyenangkan dia. Bisakah anda mengunci mulutnya agar kerjanya tidak mengomel-ngomel saja?

Tuhan, Bapak saya pernah bilang kalau Ibu saya dulu selalu tidak akur sama nenek saya makanya dia minta kawin sama Bapak saya. TUHAN, KENAPA ANDA BANTU IBU SAYA KELUAR DARI RUMAH NENEK SAYA DAN ANDA TIDAK BANTU SAYA KELUAR DARI RUMAH IBU SAYA???????

Tuhan, dengarlah. Saya tidak minta macam-macam. Sekarang saya tidak minta kawin. Meskipun sebagai perempuan saya pastinya juga kepingin nikah baik-baik sesegera mungkin. Tapi Tuhan, bantulah saya mendapatkan pekerjaan yang baik yang setidaknya mampu mencukupi hidup saya sendiri.

Saya cuma ingin bahagia, Ya Tuhan.
Sudah cukup dua puluh empat tahun saya menerima perlakuan kasar yang tidak bisa saya tolak (waktu saya kecil belum ada KOMNAS Perlindungan Anak dan kalaupun ada saya juga tidak tahu harus ngadu kemana). Dan Anda tahu saya tidak berlebihan dalam hal ini.

Tuhan, saya tahu Anda marah mendengar gugatan saya ini. Tapi sudah lama saya tidak se-sakit hati ini sama Ibu dan Bapak saya. Terakhir kali… Anda tahu lah persisnya kapan. Dan saya berterima kasih sekali atas dikabulkannya doa-doa bodoh saya pada waktu itu. (Andai saja saya tahu Anda benar-benar akan mengabulkan, tentu saya akan meminta hal-hal yang lebih baik)

Tuhan, Anda tahu kan mata saya sekarang sudah seperti jam weker otomatis melek jam tiga? Anda berjanji akan mengabulkan doa-doa hamba-Mu yang bersujud di akhir malam. Sekarang saya tagih janji Anda wahai Tuhan!! Bantulah saya. Saya lakukan semaksimal mungkin apa yang bisa saya lakukan (Anda lihat saya benar-benar melakukannya!) dan bantulah mengenai hal-hal yang diluar kuasa saya.

Terima kasih telah mendengarkan keluhan saya wahai Tuhan. Terima kasih juga telah mengirimkan makhluk baik yang mau sabar menghadapi saya.

Nb:
Saya tahu saya hamba yang nakal dan maruk. Tapi kalau boleh, bisakah Anda bantu berhentikan darahnya? Saya kepingin sholat dan puasa kayak kemarin.

BIASA AJA KALEEEEE!!!

•January 15, 2010 • Leave a Comment

dah lama gue ga baca notes orang. biasanya gue cuma liat2 sepintas, trus gue kasi jempol buat basa-basi.
Jadi, notes pertama yg gue baca di tahun 2010 ini adalah tentang MG. again.

Oke, gini gue kasi tau mengenai pembicaraan para pasien MG atau MG-ers Indonesia:

1. MG itu anugrah. (<— WHAT THE HELL IS THIS????? serius, MG itu bukan anugrah. kalopun ada faedahnya, masi lebih banyak kerugiannya, terutama soal kantong. Mana ada penyakit yg mematikan dan membatasi hidup jd anugrah?) eniwei, topik ini biasanya adalah topik basa-basi buat menegarkan hati pasien yg lagi down atau untuk ‘menyambut’ anggota baru

2. Gejala, treatment, obat2 bagi pasien MG dan informasi2 medis atau terapi penyembuhan (SATU2NYA topik yang berguna)

3. MG itu azab (cobalah untuk tobat kalo anda berpikir begitu. carilah jalan yang benar kemudian jalani itu. cari tau kesalahan anda dan cari tahu cara hidup yang baik. dan saya bilang CARI! belajarlah!)

4. hal2 baik yang didapat setelah kena MG (terkait dengan topik nomer satu. biasanya ini buat menghibur diri sendiri atau sok2 menghibur sesama pasien)

5. betapa menyebalkannya hidup setelah terdiagnosa MG, masalah2 yang timbul, de el el… (biasanya topik ini penuh keluhan dan topik ini juga yang PALING LARIS di pasaran.)

Dan isi notes yang gue baca barusan isinya topik nomer lima.
gak, ga da yang salah ma ngeluh. ga da yang salah ma marah,,
tapi apa dengan ngeluh lo jadi tambah pinter..? apa lo jadi tambah cantik?.. apa lo jadi masuk surga? jadi orang baek? apa MG dan masalah2 lainnya jadi pergi? selse????

===================
I’ll tell you some stories..
Desember 2009 adalah bulan stress buat gue. kalo gak lulus tanggal 31, gue DO.
udah dapet deadline DO gitu, badan ga kompromi.
gue ga bisa nahan pipis ma skali, ngalir aja gitu kaya keran bocor.
jadi gw kmana2 pake pampers.. eh salah, pembalut.
dah gitu,, gue mens dua kali dlm sebulan cm selang 10 hari
sakitnya naujubillah.
ada lagi. gue suka lupa caranya nafas.
buat gue, deskripsi MG kambuh ke nafas bukan cuma sesak.
tp seakan2 lo lupa caranya.
hal yg buat gue bisas bgt (plis deh, nafas doang gtu loh!) koq kayanya susaaaah bgt.
dan gue jadi repot mikirin gimana caranya nafas yg bner, gmana caranya nge gerakin paru2,
dng trus juga mikir, pasti bisa, gue pasti bisa…

gara2 hal begituan, gue jadi ketunda2 ke kampus nya
gw baru seminar pertengahan desember
hari jumat gue seminar, rabu gue masi enak2 baca COSMOPOLITAN
tp gw liat tmen skamar gue (namanya Rizka, dah gw tag disamping kalo mau tau orangnya), dia nervous.
akhirnya gw mikir, gue juga harus nervous dong ah!
mahasiswi geblek kali gue ini,, mau seminar koq baca COSMO..
akhirnya gw ikutan panik, sok ribet, sok2 blajar (dewina blajar???)
dan hasilnya seminar gue : DISASTER

gue harus lulus dalam dua minggu, yang mana berarti 7 hari efektif krn kpotong libur natal n taun baru
stress lah gue, tp koq ya dosen gue santai2???
itu pipis2 makin parah dan mens blm brenti juga.
FYI ya, di kampus gue tuh hampir ga da WC! kalo ga jorok ya pintunya ga bs ditutup!
bayangin dong, gue sharian kudu bolak-balik kosan buat ganti pembalut yg isinya darah ma pipis.
IYA,, GUE AJA JIJIK
singkat cerita, ke-DO-an gue ditunda sampe 8 Februari.
dan tibalah saatnya gue sidang.

gue sidang sehari setelah rizka dan dosen pengujinya sama2 Pak Aris n Pak Nizar
(jodoh bgt gue ma lo ya ceu??)
bedanya, rizka blajar mpe berbusa kali tuh otaknya,,
gue biasa aja. kaga ada belajar2nya sm skali. (gue dah bego dari sononya)
Rizka pusing2 nghafalin isi bukunya Simonds dkk., gue? nonton pilem india.
pacar gue bolah bilang “km stres ya Ma, mau ujian?”
tp Rizka yg ngliat gw langsung, dy blg “nyantai bgt sih lo kak!”

malemnya stelah dia sidang, Rizka pulang jam 11 dan dia cerita gmana ngerinya sidang ma Pak Nizar.
Gue, yang besoknya juga mau dibantai pak Nizar, cuma dngerin stgh jam dah gt gue TIDUR.
Normalnya, orang bakal bangun, melek sampe pagi dan nanya2 bahasan apa aja yg keluar dr tuh dosen penguji, trus blajar..
tp ya berhubung gue juga gak normal, so… hehehehhh ;p gue tidur lah semaleman itu

gue baru bgn pagi jam enam, dan baru buka skripsi gue jam sgitu.
jam 10 gue sidang, dan GUE BLOM LATIAN PRESENTASI sm skali.
it was all spontaneous.
gue bahkan baru nyadar kalo judul skripsi gue tuh depannya “IDENTIFIKASI LANSKAP” bukan “IDENTIFIKASI KOTA”
gue minum mestinon sblm sidang dimulai
dan ternyata sidang juga jauh sekali dr seram, dan gue lulus.
Alhamdulillah.
===================

nah, gue ngjalanin smua itu dengan pembalut dua tumpuk dibalik celana dalem gue dan sebotol mestinon di samping leptop.
serius. tanya aja ma saksi mata (soal mestinon, bukan soal clana dalem).

jadi kalo yg nulis notes blg “mungkin buat temen2 yang udah remisi MG bukan lagi masalah. tapi buat yang masih bermasalah sama MG nya, pasti cape lah….”
skrg gue tanya, apa bedanya gue ma kalian?
barangsiapa yang baca notes ini dan masih bilang saya remisi, tolong cek kembali kewarasan kalian! (kidding ;p …but here’s the truth, pals! i am no longer in remission)

so i was wondering,,
bisa ga sih MG-ers menanggapi secara BIASA AJA mengenai ke-MGan nya?
ya anggep aja badan lo tuh dah satu paket ma MG
terimalah MG sbagaimana lo nerima diri lo

gausah banding2in diri ma keadaan yg normal atau org normal kaya gue banding2in diri gue ma si rizka
jadinya apa? seminar gue ancur.
tapi ktika lo mikir GUE NORMAL diantara MGers, emang beginilah normalnya MG-ers, atau versi gue: GUE NORMAL DIANTARA ORG2 GA NORMAL
lo bakal nyantai jalaninnya
dan kalo lo nyantai, lo gampang banget buat nerima
kalo lo nerima, lo bisa ikhlas
kalo lo bisa ikhlas, maka BARU lo bisa bersyukur dengan bner.

ibaratkan hidup kita terbagi dlm bbrp tahap
tahap remisi dah gw tinggalin di blkg dan ini saatnya buat gue buat ber-MG-ria lagi
gw sih yakin ada tahap berikutnya dmana gue bakal ngerasain remisi lagi
tp gmana gue mau masuk ke tahap itu kalo tahap ini aja blm bs gue lewatin?

===================

ok, here’s another story:
bbrp hari ini gue cm jd ember sampah keluhan orang
plus keluhan dr diri sndiri juga kayanya

sblm baca notes itu,, hari ini gue dah dnger kata “CAPEK” dr 3 orang yg berbeda
Nyokap, tmen gue, pacar gue.
dan akhirnya gue ikutan bilang “aku capek” (<— lihat, betapa determinatifnya kata capek!)
tp bbrp waktu kmudian gw mikir (BENERAN MIKIR), “apa iya gue capek?”
ternyata nggak. gue gak capek.
gue cuma emosi dan kata yg gue keluarkan adalah “capek”.
atau tepatnya, gue mencari pembenaran melaluui kata “capek”

dan kmudain gue buka FB, dan skali lagi gue nemuin kata “capek”
OMG, it’s everywhere..!!

skali lagi ada yg bilang capek, gue lempar mukanya pake ayam!
(knapa ayam? krn cuma ayam yg ada di meja makan rumah saya)

===================

teman saya yg nulis notes bilang,,
“mau MG atau ga, semua orang pasti pernah ngerasa cape sama hidupnya”

saya tanya sama tmen2 smua yg baca tulisan ini,,
apakah benar begitu??
krn kalau memang begitu, saya punya banyak solusi
dari minum baygon sampe potong leher sendiri.
dengan gitu capeknya ilang deh, dan gak perlu nambah2 dosa dengan ngeluh lagi
(ngeluh =tidak bersyukur)

tapi kalau memang kalian tnyata gak capek,,
maka berusahalah lakukan apapun sebisa kalian.
kalo ga bisa,, ya sudahlah
sperti saya bilang sm Rizka, resepnya nyantai sidang:
“kalo ga lulus ya udah, sidang lagi juga gakpapa”
(tuh tandanya gue bneran masi bego)

[QS 9:105] “Dan katakanlah, ‘bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang2 mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”

tapi yaaaa kalo emang ada yang mau potong leher,,
sms gue aja ya kalo lo dah mati. ntar gue dateng jenguk ke kuburan.

smentara itu,, gue masih punya HIDUP buat dijalanin
dadaaaaa!

^ ^

[QS 21:107] “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat semesta alam”

Cake Cokelat Super Enak!

•January 11, 2010 • Leave a Comment

Bahan untuk Cake:

  • 200g dark cooking chocolate
  • 250g mentega tawar (unsalted butter)
  • 330g gula halus
  • 1 sdt vanili
  • 4 btr telur
  • 300g terigu
  • 1 sdt baking powder
  • ½ sdt soda kue
  • ½ cangkir tepung almond (atau almond yang dihaluskan dengan grinder)
  • 1/3 cangkir cokelat bubuk

Cara Membuat:

  1. Panaskan oven pada suhu 160 derajat Celsius
  2. Lelehkan cooking chocolate bersama 60g mentega tawar
  3. Campur sisa mentega dan gula dengan mixer kemudian masukkan vanili
  4. Masukkan telur satu per satu, usahakan satu telur tercampur dengan baik sebelum memasukkan telur yang berikutnya
  5. Kemudian campurkan lelehan cokelat dan mentega ke dalam adonan tersebut
  6. Siapkan mangkuk ke dua
  7. Dalam mengkuk ke dua, campurkan soda kue dan baking powder serta tepung almond hingga merata
  8. Siapkan mangkuk ke tiga
  9. Dalam mangkuk ke tiga, larutkan cokelat bubuk dengan 160ml air mendidih
  10. Setelah cokelat bubuk benar-benar larut, masukkan campuran di mangkuk ke dua ke dalam mangkuk ke tiga, aduk hingga tercampur dengan baik
  11. Campurkan adukan tersebut dengan adonan mangkuk pertama, aduk hingga tercampur dengan baik
  12. Siapkan loyang berdiameter 23 cm
  13. Masukkan adonan ke dalam loyang dan panggang selama kurang lebih satu jam
  14. Keluarkan dari oven dan dinginkan
  15. Setelah kue dingin, bagi kue manjadi 3 layer dan olesi dengan campuran chocolate filling
  16. Setelah ketiga layer disatukan kembali dengan chocolate filling, siramkan campuran chocolate glaze di permukaan kue dan biarkan cairannya meleleh hingga ke bawah

Chocolate Filling

  • 300g dark cooking chocolate
  • 100g mentega tawar
  • 250ml thick cream (bisa dibeli di supermarket)
  1. lelehkan cooking chocolate dengan mentega tawar, kemudian campurkan dengan thick cream
  2. angin-anginkan hingga dingin, kemudian masukkan dalam kulkas hingga BENAR-BENAR dingin.
  3. Keluarkan dari kulkas dan aduk dengan whisk (atau bisa juga mixer) hingga mengembang seperti krim

Choclate Glaze

  • 125ml thin cream (bisa dibeli di supermarket)
  • 150g dark cooking chocolate
  • 1 sdt gula halus
  • 45g mentega tawar
  1. lelehkan cooking chocolate dengan mentega tawar
  2. campurkan dengan thin cream dan gula halus
  3. aduk hingga tercampur dengan baik
  4. siramkan ke permukaan kue

========================================

lesson from the chef:

Meskipun terlihat ribet, tapi ternyata resep ini tidak sesulit yang dibayangkan. Jangan ganti mentega dengan margarine kalau anda ingin hasilnya benar-benar enak. Karena seperti yang dikatakan oleh para koki masakan perancis, mentega adalah rahasia kehidupan…

Untuk adonan kuenya, saya tidak merekomendasikan penggunaan mixer. Menurut saya akan lebih baik hasilnya bila adonan diaduk manual menggunakan whisk. Karena adonan kue ini tidak menggunakan SP, yang mana bila dicampur dengan mixer, biasanya kue menjadi keras.

Saat anda hendak mengolesi filling kue ini, pastikan kuenya BENAR-BENAR dingin. Karena kalau tidak, adonan filling yang bertekstur krim itu akan meleleh menjadi cair. Sekali lagi, pastikan kuenya benar-benar dingin!!!

Saya pernah menggunakan salted butter (mentega asin) sebagi pengganti mentega tawar untuk kue ini. Well, rasanya memang menjadi asin, tapi ternyata tetap enak dan bahkan unik dan ajaib! Terima kasih pada ber ton-ton cokelat yang eksis dalam resep ini!

And well, yeah… resep ini mengandung 395g mentega dan 650g cokelat, saya peringatkan: KUE INI BENAR-BENAR BIKIN GENDUT! This is really a fattening food! Attention, ladies! Tapi jika anda (seperti hal nya saya) yang menganggap hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dan ingin mencoba membuat kue yang benar-benar enak, cobalah resep ini! (I really want to make this cake for mon amour, he really needs fat)

Respect de votre chef de pâtisserie, bon apetit! ^ ^

Le Pattissier ,

Dewina Sugianto

Detoksifikasi Hati: Day 4

•October 6, 2009 • Leave a Comment

Nggak banyak hal yang spesial hari ini. Minim, malah..

Diawali dengan pagi yang.. yeah,, kena ceramah lagi. Masalah fisik juga agak menurun dibandingkan kemarin. Tapi yang nggak biasa, aku nggak terlalu memusingkan hal-hal tersebut. Yang mana biasanya bikin aku uring-uringan seharian, atau aku tumpuk di dalam pikiran sebagai cadangan bahan peledak. Tapi hari ini nggak. Belakangan, aku menyadari satu peningkatan aktualisasi diri bahwa aku mulai bisa menghadapi sesuati dengan lebih santai.

Malam sebelum tidur adalah malam yang sepi. Nggak ada senyuman yang mengantarku tidur dan nggak ada cengiran yang mengembang ketika bangun. Tapi pagi ini ada hal yang membuatku nyaman. Well, kalau “nyaman” adalah kata yang tepat. Aku nggak bisa menemukan perbendaharaan kata yang lebih sesuai untuk mood ku hari ini.

Pangeranku menyapa pagi ini dan efeknya seperti morphin. Sebenarnya aku juga gak begitu ingat efek morphin itu seperti apa. Aku cuma ingat dosis yg superminim (sepersepuluh dosis orang normal) yang diberikan padaku pasca thymectomy bisa membuatku berhenti teriak-teriak semalaman. Yak, kurang lebih seperti itu. Aku tenang seharian. Siangnya, aku terlelap agar malam ini bisa kembali melakukan ritual urban yang tadi malam terlewatkan. Seperti lagu Pretty Boy nya M2M jaman SMU,

“I lie awake at night, see things in black and white…”

Buruknya, aku jadi malas mengerjakan skripsi. Aku butuh suntikan semangat. Jelas sekali. Sejauh ini belum ada yang bisa memberikan tambahan semangat untuk hal apapun. Well, ada satu dua orang. Tapi sudah lama sekali rasanya.

Namun hal yang terbaik justru datang saat dibutuhkan. Meski jalannya agak bermasalah. Sore-sore pacar(??)ku agak bete sepertinya karena “cinta sejati”nya dicela. Ihihiiiiiyy. Maaf deh, memang aku bilang “aku nggak main sama kaum marjinal”. Dia langsung muntab kayaknya,, membela sang “cinta” dengan mengatakan sang “cinta” banyak yang ngejar, badannya yg kecil lucu buat diangkat2 (sepertinya dia kena polio kali ya, atau genetisnya jelek jadi badannya kurang berkembang) dan bla bla bla..

Hal itu membuatku jadi agak waras dan berpikir sedikit seperti Angling. Ada banyak cewek lucu-kecil-imut and even cuter than her. Than me, for sure. She may be glowing, but come on.. every girl is glowing in someway!! But.. she doesn’t SHINE. Nggak ada satu hal pun yang bikin dia tenar di kampus atau dimanapun selain ketergila-gilaan pacar(?)ku terhadapnya*.

Kontraindikasinya, hal itu juga membuat semangat PLUS fokus ku ter-recovery secara cepat. Membuatku kembali berkaca diri. Aku mengingat kembali mengenai satu pemahaman bahwa salah satu cara menilai seseorang (yang kugunakan dalam klasifikasi kaum marjinal) adalah dengan melihat apa yang telah ia lakukan untuk agamanya, negaranya dan sesamanya. Dulu aku sempat berpikiran untuk memasukkan kata “keluarganya” namun belakangan melihat betapa banyak intervensi ego pribadi yang berperan dalam sebuah keluarga. Plus dengan serentetan masalah yang kualami belakangan ini, aku semakin yakin bahwa urusan keluarga tak layak diperhitungkan dalam penilaian kualitas manusia.

Dengan pertimbangan itu, segera menyadari bahwa aku masih belum bisa memenuhi tiga kriteria tersebut. Itu adalah standar yang kubuat untuk diriku sendiri, dengan menerapkan standar proses “bila ingin menjadi orang hebat, maka bergaullah dengan orang-orang hebat, berpikirlah dan bertidaklah seperti orang hebat” sejauh ini aku hanya berhenti di tahap pertama.

Aku harus melakukan sesuatu. Atau aku akan berakhir sama dengan si cewek marjinal. Dan buatku, hal itu sungguh nista.

Ada satu keinginanku sedari dulu, begitu aku menyadari bahwa aku bisa mati kapan saja, dengan MG sebagai katalis tentunya, aku ingin ketika aku mati, aku tidak menyesali hidupku. Ironisnya, sejauh ini hidupku sangat cukup layak untuk disesali. Aku sadar betul akan hal itu. Untuk itu aku harus melakukan hal besar, aku ingin mati meninggalkan sesuatu yang berdampak besar bagi sesame manusia, bukan hanya meninggalkan nama di batu nisan dan memori di kepala segelintir orang yang akan hilang begitu mereka juga mati. Bukan supaya namaku dikenang, bukan supaya aku terkenal, tapi lebih merupakan tanggung jawab pada diri sendiri dan yang menciptakan. I mean, ayolah.. kita ada di dunia ini bukan cuma untuk makan-tidur-beranak-memperkaya diri terus mati begitu saja kan???

And I’m working on it. Dan setiap hari kuucapkan bismillah, berusaha membangun jalan setapakku sedikit demi sedikit menjadi jalan tol tiga lajur. It will take years, dan apabila menurut anggapan umum aku hanya melakukan sesuatu yang tak berguna, sebenarnya dengan membangun sesuatu untuk sesamaku, aku juga sedang membangun diriku sendiri. Toh aku juga yang akan menikmati jalan tersebut. Menjadi kuli proyek juga gak buruk-buruk amat, bisa sekalian fitness dan membentuk badan menjadi bootylicious. And when I’m done, aku akan meninggalkan para kaum marjinal itu yang terpaksa minggir di ghetto area.

Aku jadi inget Enisa.. dan juga skripsiku.

Thank God.

Jadi untuk malam ini, menunya memikirkan lines untuk proyek Enisa, mengerjakan skripsi, melakukan ritual urban dengan pangeranku seraya tetap bernyanyi, “I lie awake and pray, that you will look my way…” dan memaksa otakku untuk kembali dari memori mengenai satu hal, di suatu waktu…

“He sent her a message, in the middle of the night, calling her, ‘lolabugsie’…”

Detoksifikasi Hati: Day 3

•October 6, 2009 • 1 Comment

Pelajaran yang aku dapat hari ini adalah mengenai kejujuran. Terutama kejujuran pada diri sendiri.

Hari ini ku awali dengan pagi yang baik. Sayangnya, baik tidak selalu menyenangkan. Tapi pagi ini aku belajar untuk jujur, dan mengungkapkan kejujuran pada orang lain. Atau tepatnya, pada orang yang kepadanya selama ini kututupi kejujuranku dengan berbagai macam bedak beraneka warna.

Aku mengakui padanya hari ini, bahwasanya aku tengah menjalani hubungan yang sangat-sangat buruk. Hubungan semu, dimana para stakeholdernya sama-sama meragukan akan tercapainya aktualisasi diri dan kebahagiaan apabila mereka terus bersama. Dan juga dilalui secara sadar bahwa dalam hubungan tersebut terdapat unsur keharmonisan yang sangat minim, tingkat kesesuaian lahan “sangat buruk sekali”, over carrying capacity, tidak adanya chemistry dan peningkatan rasa keragu-raguan yang sangat cepat seperti tomat yang baru masak fisiologis setelah diberi ethylene.

Aku melihat kekecewaan besar di matanya, membiarkan dia mengeluarkan isi kepala dan luapan emosinya padaku pagi ini, dan jadilah aku menghadiri kelas “bagaimana menjadi perempuan yang baik” selama dua jam, menatap dosenku yang entah bagaimana sehingga pada pagi ini ku merasa, “ah ya, dia memang sudah banyak makan asam garam.”

Aku membuat kecewa dosenku, namun aku merasa sedikit ringan. Aku ungkapkan apa keluhanku selama ini, sehingga tidak bisa memenuhi standar pemenuhan tugas yang baik. Aku membuat ia terkejut, sedih, emosi, tapi nyatanya ia berpikir juga. Mudah-mudahan dia ikhlas, pikirku. Mudah-mudahan dia memaafkan aku.

Aku cukup dihantui rasa bersalah pagi ini. Aku tak yakin harus berbuat apa, mengerjakan apa, dan yang pasti aku malas mandi. Tapi kalau kalian pikir aku perempuan jorok yang memang sudah biasa mandi seminggu sekali, maaf saja. Apabila otakku sedang bekerja normal, aku bisa mandi sehari empat kali. Ganti baju adalah hobi keduaku setelah ganti-ganti wangi sabun. Serius.

Kalau hari kemarin aku merasa perlu re-detoks, setidaknya hari ini perasaanku jauh lebih ringan. Mungkin efek kejujuran tadi pagi. Sungguh deh, ternyata sebuah kejujuran membawa efek yang cukup besar bagi seorang yang biasa berbohong seperti saya. Bahkan selain membawa dampak emosional, kejujuran juga berdampak secara fisiologis. Hari ini saya kembali rujuk dengan pantyliners.

Hampir setengah hariku kuhabisakan dengan seorang kawan datang berkunjung. Hebat, tidak banyak orang yang mampu menempuh Depok-Pamulang dengan kondisi MG cukup serius: mata ptosis dan blurry speech. Sejauh ini saya baru ketemu satu pasien nekat. Ya dia itu, selain saya tentunya.

Setengah hari membicarakan MG dan bergosip dengan pria ganteng (yang kebetulan beberapa hari belakangan ini naik pangkat jadi idole MGers. Thanks to me) sedikit banyak memberi pengaruh untuk hari ini. Kalkulasinya seperti ini, menghabiskan setengah hari = membuang banyak waktu untuk berpikir negatif = menyisakan beberapa pikiran positif = hatiku nggak merana-merana amat.

Residunya, pengalaman setengah hari itu membuat pacar (?) ku bertingkah  agak aneh hari ini. Sebenarnya mulai semalam, tapi mulai siang ini makin aneh. Mirip badak disuruh berenang. Maksudku, mengingat hubungan kami yang semu dan tidak sehat sebagaimana telah diuraikan pada paragraph ketiga, sulit rasanya menemukan alasan mengapa dia bertingkah seperti itu. Dan sejujurnya saya takjub, mungkin sama takjubnya bila saya lihat ada cacing bisa terbang.

Eniwei, lupakan cacing tersebut. Kalaupun di-filem-kan, rasanya tidak akan laku di pasaran.

Satu kejujuran lagi kuutarakan sore hari. Setengah jujur, bisa dibilang. Kenapa setengah? Karena menurutku itu tidak penting. Hanya pengantar ritual satu huruf yang pada hari ini kulakukan –ehm– lima kali. Sialnya, kejujuran sore ini malah mengantarku pada tangis yang meledak, pada akhirnya. Setelah kutunda-tunda, akhirnya keluar juga. Mengingatkanku pada kekejamanku pada jiwa yang tak berdosa, satu hal yang benar-benar tidak ingin kuingat saat ini.

Tapi sepertinya justru ini yang kubutuhkan, meski tidak kuinginkan. Mengeluarkan semua, mengakui kesalahan, ikhlas menerima akibat dan mengungkapkan kejujuran. Plus satu hal yang dititipkan ibu saya sebelum pergi; kali ini bermainlah dengan logika.

Logika harus mengalahkan hati, dan logikaku bicara, “kamu tidak boleh lagi jatuh cinta. Tidak sekarang. Bersihkan dulu semua cinta yang berkerak di hatimu dan tanam bibit yang baru lagi.”

Sayangnya cinta bagaikan kanker stadium 3 di hatiku yang busuk dan porous ini. Sudah menyebar ke segala bagian, merusak organ vital, telah berurat akar dan memiliki jaringan pembuluh darah sendiri. Angkat sekarang, atau biarkan beberapa saat lagi maka jadilah aku Almarhumah.

Aku tidak melebih-lebihkan. Almarhumah kanker rahim, payudara, ovarium, pada akhirnya menempati kontrakan 2×1 dalam waktu singkat. Almarhumah kamker cinta bisa sedikit lebih beruntung, menikmati kontrakan tipe 21 yang isinya ruang depan, kamar mandi dan dapur yang jadi satu memanjang ke belakang plus satu suami psycho dan satu anak tak ber-akte.

Maka sadarlah aku bahwa diperlukan suatu operasi pengangkatan cinta*, namun tak kutemukan ahli bedah yang bisa mengangkat tumor ganas tersebut selain diriku sendiri. Maka sore ini, sebelum tangisku makin menjadi-jadi, kucari sumber oksigen ditengah sesakku. Tidak, aku tak boleh jatuh lagi pada kamu, tak boleh lebih dari ini dan harus segera kukurangi.

Kulayangkan ingatanku, pada satu hari, di suatu waktu…

“…He drove her home, riding his motorcycle, talking about silly things, finally he said goodbye in German, and she said ‘arrivederci’…”

*) mungkin namanya bakal jadi Cintatomy.

Detoksifikasi Hati: Day 2

•October 4, 2009 • Leave a Comment

Apa yang terjadi pada hari pertama kemarin cukup membuatku merasa lebih baik hari ini. Aku semalam tidur dengan diantar oleh senyuman, atau hal yang cukup membuatku tersenyum-senyum sendiri selama beberapa waktu dan membuatku bangun dalam keadaan tersenyum-senyum juga.

Pagi ini aku bangun hampir jam delapan. Melewatkan ritual jam tiga sampai jam lima yang biasa dilakukan, dibangunkan oleh suara mamaku yang anehnya, membangunkanku dengan cara yang tidak biasanya.

Mama naik ke kasurku. Merampas buku Eat Pray Love yang teronggok dengan jumawa disampingku. Memintaku bergeser dan memberi tempat untuk dia ikut rebahan. Jujur saja, kasurku cukup sempit untuk ditempati emak dan anak gajah. Jadilah aku merapat ke dinding, meniban ponselku yang kemudian kusadari sudah cukup ringsek untuk kutambah beban badanku. Akhirnya aku bangun.

Hari ini badanku lelah sekali dan pegal-pegal. Jadilah kerjaku hari ini hanya makan, tidur dan online. Pagi ini pacarku menelepon, dan untunglah, hari ini sepertinya belum ada kesempatan buat berantem. Jarang-jarang terjadi. Sumpah. Kuperkirakan ini efek dari aku yang baru saja bangun, atau mood yang cukup baik menjelang tidur, atau pikiranku yang selama sambungan telpon menyala entah ada dimana. Ups, maaf… Aku tahu pikiranku ada dimana.

Aku melakukan sesuatu yang kusebut dengan ritual satu huruf sebanyak tiga kali hari ini. Tak akan kuceritakan bagaimana konkritnya, tapi yang terakhir membuatku tersadar bahwa hidupku belakangan ini agak ganjil.

Seperti yang kubilang, hidupku semenjak 5 januari merupakan malapetaka. Setelah awal Juni, rasanya seperti habis minum racun tikus. Tapi belakangan ini sepertinya agak mendingan. Seakan ada yang menambah wangi lavender dalam racun tikus tersebut. Masih menyesakkan, membuat hati bolong-bolong, otak keropos, tapi agak “wangi-wangi dikit”.

Aku mencari apa yang berubah. Dan aku segera tahu. Aku selama ini mengira bahwa ada satu hal yang nggak akan bisa hilang dari hidupku, atau pikiranku, tepatnya. Tapi ternyata aku salah. Ku mencoba mengingat apakah hari ini aku sudah memikirkan hal tersebut, sebagaimana biasanya, sudahkan itu merasuki otakku, imajinasiku, mimpiku hari ini? Tapi ternyata belum. Sampai aku menulis ini, well, belum. Dan sungguh mengejutkan, aku menyadari bahwa hal itu telah tergantikan.

Aku mengingat, siapa yang mengganti? Kapan? Aku tidak merasa… Wait! Ada satu hari dimana aku mengantri mocha float dan aku menyuruh orang yang berdiri di belakangku untuk duduk. Aku menyuruhnya menjauh dariku dengan cara yang agak sarkastik memang, tapi sebenarnya bukan karena aku tidak nyaman. Aku hanya merasa… ganjil.

Sayangnya keganjilan beraroma lavender ini bekerja seperti candu. Membuat tenang sesaat, tapi menggerogoti perlahan dan ujung-ujungnya membuatku berteriak, “I want it more!!!” Dan jelas sekali, aku tidak membutuhkan hal-hal aditif seperti itu saat ini.

U know, tujuh belas kali pacaran sama saja dengan tujuh belas kali mengalami kecelakaan di jalan yang meninggalkan sepuluh cacat permanen di bagian muka. Merusak syaraf, menghilangkan estetika dan alhasil membentuk diriku menjadi perempuan super frigid. Belum lagi hal-hal diluar masalah hati yang aku tak bisa menghitung berapa jumlahnya. Tapi yah, hampir dari semua luka itu kudapat setelah aku mengenal dunia kampus. Aku jelas tidak membutuhkan candu yang pada akhirnya membuatku mengalami kecelakaan lagi. Tidak hari ini, tidak besok, tidak sekarang.

Mungkin agak terlalu ekstrim dengan mengasosiasikan hal itu dengan candu. Mungkin agak lebih ringkas kalau aku sandingkan dengan donat. Yah, untuk saat ini kurang lebih sama. Seperti ketika aku pertama kali memakan donat coklat J.Co. Merasa tidak cukup satu, dan tidak pernah cukup…

I have to fix this, clearly.

Aku mengisi perutku dengan dua porsi pasta plus saus yang banyak hari ini. Makan chocolate chip cookies dan tempura, tidur, membaca buku, chatting, main game… Kulupakan sejenak skripsi dan “hal yang mengganggu kesehatan” belakangan ini. Membebaskan pikiranku untuk berkelana semaunya, namun ternyata pikiranku tidak kemana-mana. Ia ada disitu, membawa kembali memori di satu hari, di suatu waktu…

“They met at a park, hang around riding his motorcycle, talking about silly things, then they went to the movie, and finally, they end up kissing, inside the elevator…”

It’s official. I need to re-detox.

Detoksifikasi Hati: Day 1

•October 3, 2009 • 1 Comment

Setelah melewati malam yang panjang dan melelahkan, pagi ini aku bangun dengan menemukan diriku dalam kondisi kelelahan akut. Baik secara fisik, mental dan hati. Plus dengan satu pak darah yang belum berhenti mengalir dan rasa sakit pada dinding bagian dalam vagina.

Entah apa yang membuatku mulai berpikir pagi ini, dan mengakui bahwasanya aku lelah. Aku bosan, Ada yang harus diubah, pikirku. Kini aku melihat diriku sendiri bagai diujung tebing, berpijak pada bagian yang rapuh dan bisa runtuh kapan saja. Diriku membutuhkan pertolongan, jelas sekali. Tapi ternyata ponstan, listrik dan pulsa tidak cukup untuk menyelamatkan hidupku. Tiga hal itu ternyata hanya memberikan efek seperti mestinon. Membuatku bertahan, tapi tidak memperbaiki apapun. Bahkan secara mental, aku semakin tidak waras.

Ku melihat kembali ke belakang, mencari akar masalah kehancuranku. Aku mendapati sebuah tanggal, 5 Januari. Titik balik kurva hidupku. Ibarat puncak lintasan rollercoaster, yang menanjak perlahan dan seketika meluncur tak tertahan.

Jelas sekali semenjak 5 Januari aku mengalami kondisi emosional yang sangat tidak stabil dan membutuhkan pegangan. (Ya, aku perempuan manja yang sangat tidak mandiri dan bergantung pada orang lain). Sayangnya, pada saat itu aku tidak menemukan pegangan yang cukup kuat. Ku mencoba berpijak pada kakiku sendiri dan berpegang pada sesuatu yang juga rapuh, ternyata itu malah membuatku makin terperosok ke dalam.

Hari ini kulihat hatiku. Bolong-bolong seperti habis dijajah rayap sepuluh batalyon. Tidak hancur, tidak utuh, tapi bolong-bolong seperti Spongebob. Hitam seperti arang dan berlendir. Rupanya aku memperlakukan hatiku sendiri bak laptop terakhirku. Memaksanya bekerja diluar batas kemampuan hingga ringsek tak tertolong.

Aku lari dari masalah. Dari BERBAGAI masalah. Aku pergi melintasi pulau demi lari dari sesak dan air mata, namun ternyata pulang dengan membawa JAUH lebih banyak tangis dan luka. Aku memaksa diriku berdiri, berjalan dan melompat, namun pada akhirnya aku hanya membuat diriku semakin lelah, lelah dan lelah.

Aku perlu detoks.

Jelas sekali beberapa bulan terakhir ini hidupku tidak teratur. Bahkan pada bulan Ramadhan kemarin pun tidak. Badanku sama kacaunya dengan isi otakku. Namun bukan itu yang perlu di detoks. Aku perlu membersihkan HATIKU. Hati yang kini sudah hitam busuk seperti paru-paru yang setiap hari menghisap timbal selama dua dekade.

Aku memutuskan untuk memasukkan hatiku dalam program rehabilitasi mulai hari ini. Berhenti memaksanya bekerja di luar kemampuan. Well, sepertinya kini memang sudah tak mampu melakukan apa-apa lagi. Konkritnya, memaksa diriku berhenti mencari pacar baru untuk pelarian dan mencoba berhenti membenci seseorang. And let it loose. Tapi ternyata hatiku perlu ventilator.

Jadilah hari ini aku berangkat ke timur Jakarta. Bertemu orang-prang positif dan menemukan jalanku untuk kembali berpijak di tempat yang datar. Mengingat kembali cita-cita dan mimpi-mimpi yang telah tertutup debu knalpot, berhenti memikirkan berat badan yang terus bertambah dan make up yang semakin siang semakin luntur. Toh dilihat dengan bagaimanapun aku tetap jelek juga.

Satu pernyataan di sore hari sebelum pulang keluar dari seorang rekan. Dia menunjuk pada buku yang kubawa. “Eat Pray Love. Makan Doa Cinta. Lo mah makan doang, doa nya kagak.” Sepertinya iya. Aku kebanyakan memaksa diriku untuk bersantai dan bersenang-senang. Memaksa diri untuk berdoa juga tapi rasanya tidak seimbang. Mungkin itu sebabnya sampai sekarang aku tak mendapatkan cinta.

Aku perlu melakukan sesuatu. Sepertinya aku nggak bisa hanya berdoa dengan bibir dan hati. Aku perlu melakukan sesuatu untuk menunjukkan kesungguhanku dalam berdoa.

Hari ini kami membicarakan pengesahan yayasan. Selalu ada jalan apabila kita memang berniat melakukan sesuatu yang positif. Lebih dari itu, apabila benar terealisasi, maka salah satu mimpiku akhirnya ada juga yang jadi kenyataan.

Aku akan melakukan segala yang aku bisa untuk mewujudkan yayasan ini. Untuk membantu sesamaku. Bukan karena mereka butuh pertolongan, tentu tidak, hanya Allah yang dapat menolong mereka. Namun aku BUTUH untuk menolong dan berbagi. Demi menyembuhkan hatiku dan menyelamatkan hidupku.

Kuingatkan diriku sendiri, bahwa kebaikan berjalan dua arah.

Dan mukjizat kecil terjadi padaku hari ini.

As I always say, “miracle does happen in someway. All you have to do is believe”

He’s Just NOT That Into You

•August 6, 2009 • 6 Comments

Setelah tujuh belas kali pacaran (yes, tujuhbelas), selama 23 tahun hidup saya ini, saya mulai menyadari bahwasanya saya adalah magnet bagi lelaki-lelaki brengsek. Nggak perlu disebutin berapa jumlahnya, atau secara spesifik, siapa aja, tapi saya merasakan pentingnya bagi para wanita untuk mengetahui sejak awal kriteria2 seorang lelaki brengsek. Namun sayangnya, sebagian besar dari kaum hawa terlalu sering dibutakan oleh suatu ketidaklogisan yang katanya bernama cinta sehingga ujung-ujungnya mereka menemukan dirinya berakhir dengan sakit hati.

Sedangkan para sahabatnya, oh no… inilah yang membuat saya tidak begitu suka meminta pendapat soal cita dari teman-teman wanita. Mereka sama naifnya! Atau mungkin bukan naïf ,tapi pada sebagian besar kesempatan, mereka terlalu berpikir positif. “aaahhh.. mungkin dia gak punya waktu Naaaaa” atau “dia mungkin memang orangnya begitu” dan yang paling sering terdengar adalah “lo musti sabar ngadepin dia”. JIAHH…

Seperti yang kita tahu bahwa kaum adam dan kaum hawa berbicara dengan bahasa yang berbeda, ada kalanya kita butuh penerjemah. Berbeda dengan tanggapan-tanggapan yang biasa saya dapat dari teman-teman wanita, saran dari teman-teman pria seringkali lebih frontal, lugas, singkat dan… pada akhirnya terbukti benar. Bisa kalian bandingkan, pernyataan yang seringkali keluar dari mulut teman-teman pria kurang lebih seperti ini “udah jelas kan dia gak mau sama lo?” atau “lo nyadar gak sih kalo lo lagi dimaenin?” yang biasanya semua kultum soal  percintaan tersebut ditutup dengan pernyataan yang absolut “percaya deh sama saya. Saya juga cowok kali, Naa”

Dan… oke, berdasarkan pengalaman mari kita susun daftar ciri2 cowok brengsek atau tindakan-tindakan yang menunjukkan bahwa seorang cowok merupakan seseorang yang SEBAIKNYA dimasukkan kedalam daftar UNTRUSTED:

  1. Dia tidak pernah menelepon. Helloooo… bagaimana mungkin kita masih mengharapkan seseorang yang hampir tidak pernah menelepon? Apa alasannya? Tidak punya uang buat beli pulsa? Oh come on, alasan tersebut hanya akan berimbas pada masalah yang lebih besar lagi. Trust me! Kecuali hubungan yang sedang anda jalani terpisah batas administratif negara yang biaya komunikasinya bisa bikin anda miskin mendadak, hampir tidak ada alasan bagi pria untuk tidak menelepon. Apalagi disaat seperti ini, tarif telepon genggam sama murahnya dengan es cendol. Also written in cosmo magz this month, “Jika seorang pria tidak pernah menghubungi wanita, itu berarti ia benar2 tidak tertarik padanya”.
  2. Dia terlalu banyak memakai uang anda. Seperti yang telah saya kemukakan dalam tulisan saya sebelumnya “Emansipasi Pria”, hal ini akan mengakibatkan masalah yang berbuntut paaaaaanjaaaaaaaaaaaangggg… Seriously, Men are like bank accounts. Without a lot of money, they do not generate a lot of interests. Kecuali suami anda tiba-tiba sakit parah dan membutuhkan dana pengobatan cukup besar, mulailah dari sekarang menghitung, berapa rasio pengeluaran yang anda keluarkan dengan yang dikeluarkan pasangan anda demi kepentingan berdua. Jika persentase pengeluaran anda lebih dari 50 persen, maka… BEWARE!
  3. Dia takut dengan komitmen. Shit! Harusnya saya dengarkan nasehat-nasehat dari beberapa teman. Dan terbukti… Yang terjadi hanyalah sakit hati berkepanjangan dan masalah-masalah baru yang lebih besar. Bagi para wanita single, berapa lamakah waktu yang PANTAS bagi seorang wanita menjalani proses PDKT dengan seorang pria? Satu-dua bulan masih OK. Tapi lebih dari tiga? Are you sure? Anggaplah anda telah berumur lebih dari dua puluh satu. Maka berapa lama anda menunggu sampai dia mau menikah? Ten years?? Sampai akhirnya anda menyadari bahwa dia gay atau memang dia tidak mau menikahi anda? Oh come on… As also written in cosmo, “Para pria akan melakukan APAPUN untuk membuat wanitanya bahagia dan tetap bersamanya”. Hal ini juga menjadi sesuatu yang absolut apabila si pria mengeluarkan pernyataan seperti “aku belom siap” atau “aku masih trauma”. Plis deh, mana ada trauma soal cinta? Bukan cuma dia seorang yang pernah patah hati di dunia ini kan? Dan anda bukan babysitternya yang harus ngurusin dia sampai dia sembuh dari patah hati. Dan apabila si pria (bajingan) tersebut meminta anda “tunggu aku sampai sembuh dari patah hati. Tapi kamu jangan pergi…” maka inilah yang saya sarankan untuk anda lakukan: teriak di depan mukanya “SHUT THE FUCK UP!” siram kepalanya dengan segelas minuman atau gampar mukanya (atau bisa juga keduanya) and… MOVE ON WITH YOUR LIFE!*
  4. Dia memaksa anda melakukan sesuatu yang tidak anda inginkan. Termasuk sex. Atau pekerjaan rumah tangga yang bukan menjadi tanggungjawab anda. Memangnya anda dianggapnya apa? Sex machine? Atau pembantu?
  5. Dia tidak romantis. Memang tidak semua pria dilahirkan sebagai sosok yang romantis. Tapi dia kan nggak perlu menghujani anda dengan bunga. Banyak hal kecil yang bisa menunjukkan sisi romantis seorang pria. Dan menjadi romantis juga bisa diartikan dia menghargai anda. Dua hal romantis yang paling mendasar dan saya sukai adalah apabila seorang pria mengambilkan sendok ketika saya mau makan dan membersihkannya dengan tissue sebelum diberikan kepada saya. Seseorang yang masih saya ingat pernah sesekali melihat kacamata saya kotor kemudian dia membersihkannya dengan bajunya dan memakaikannya lagi pada saya. Ehm,, xixixixixixxiii…
  6. Dia (ternyata) juga sibuk flirting atau kencan dengan wanita-wanita lain. Meskipun dia bilang “tapi yang serius cuma kamu” atau “kamu bisa liat sendiri kan, isi inbox saya tetap paling banyak dari kamu” well… anda tidak bisa jamin kan dia tidak bilang hal yang serupa pada wanita-wanitanya yang lain?
  7. Dia tidak mengenalkan anda pada orang-orang terdekatnya. Rumusnya simpel. Selama dia tidak memperkenalkan anda dengan keluarganya, maka dia tidak menganggap hubungannya dengan anda sebagai sesuatu yang serius. Dan ini berlaku absolut.** Bisa saja dia bilang “aku tadi cerita tentang kamu ke ibuku” atau “salam dari kamu udah aku sampein ke papa, beliau bilang salam balik buat kamu” Tidak menutup kemungkinan kan ketika anda berinisiatif menghubungi orangtuanya, mereka malah bereaksi “Kamu siapa ya? Anak saya nggak pernah cerita tuh” Oh God… “dewina who?”
  8. Dia tidak menghargai orang lain. Mungkin dia tipe yang super pencemburu. Atau egonya terlalu tinggi sehingga apabila ada orang lain yang menyinggung egonya tersebut, dia kemudian mengasosiasikan orang-orang tersebut dengan sesuatu yang buruk. Tapi mendengar dia sering menjelek-jelekkan orang lain, bisa menjadi cermin bahwa dia MUNGKIN juga melakukan hal yang sama pada anda. Atau apabila anda mendengar dia mengeluarkan pernyataan yang tidak pantas mengenai mantan atau pasangannya, misalnya “ah istri gua mah ga pernah rewel yang penting uang dapur cukup” maka siap-siaplah…
  9. Dia tidak menghargai komitmen orang lain. Satu hal yang saya dengar adalah, apabila seorang pria tidak menghargai komitmen orang lain maka dia juga tidak  bisa menghargai komitmennya sendiri.

10.  Dia tidak pernah cemburu. Saya tidak suka pria posesif. Dan hampir semua orang tidak suka terlalu dikekang. Tapi apabila seorang pria tidak juga cemburu ketika anda telah berusaha membuatnya cemburu setengah mati… Anda yakin dia benar-benar tertarik pada anda?

11.  Dia meminta anda aborsi. Kecuali anda telah memiliki cukup banyak anak, tidak ada alasan baginya untuk lari dari tanggungjawab. Apapun alasannya, pada akhirnya wanita tetap akan lebih dirugikan. Baik dalam hal fisik maupun psikis. Cobalah katakan padanya “saya mau aborsi apabila kamu juga melakukan vasektomi”.

12.  Dia menempatkan anda pada posisi yang tidak aman. Inilah yang paling sering terjadi. Si pria menganggap anda terlalu menggilainya sehingga mengeluarkan sikap maupun pernyataan yang bernada “saya bisa meninggalkan kamu kapan saja”. Percaya deh, ujung-ujungnya pasti buruk. Jadi daripada menunda sakit hati lebih lama lagi, lebih baik tinggalkan sekarang saja. Gunakan waktu yang tersisa dalam hidup anda untuk bertemu dengan orang yang lebih baik.

13.  Dia menjadikan anda (hanya) sebagai pelengkap saja. Ingat film click? Adam Sandler? Wajar apabila seorang pria mencintai pekerjaannya. Tapi apabila dia HANYA mencintai pekerjaannya dan terlalu sering mengabaikan anda, bagaimana dengan anak-anak? Hal serupa juga berlaku bagi pecandu narkoba. Dia lebih suka hang out dengan teman-temannya dan menghisap ganja? Well… anda yakin siap bila sewaktu-waktu menjalani LDR? (anda di rumah, dia di penjara)

14.  Dia selingkuh, dan bercinta dengan wanita lain. No doubt, ya… Herannya, masih ada saja yang berdalih “come on, it just sex…” kalau dia bilang itu cuma sex, lalu anda apa?***

Oke, daftar diatas masih memerlukan revisi dan masukan dari kalian semua. Apabila ada yang berkenan menambahkan daftarnya, saya akan senang sekali. Daftar diatas dibuat berdasarkan pengalaman selama 23 tahun hidup saya dan TIDAK ditujukan untuk menjatuhkan pihak manapun. Well, kalau ada yang sedikit merasa… ya maap! Hehheheheee…

..

..

..

..

-out aaahh..

..

..

..

..

* memangnya dia pikir dia siapa sampai anda harus menunggu? Jelas kan kalau pria tersebut hanya sosok yang takut mengambil keputusan? Dia tidak begitu suka dengan anda tapi takut nantinya akan menyesal apabila anda pergi. Tidak ada jaminan suatu saat dia tiba-tiba jadi suka pada anda…

** sekedar mengingatkan ya, biasanya anak laki-laki itu dekat sama ibunya. Lebih dari enam puluh persen diantara mereka berbagi soal cinta dengan ibunya. Dan hampir seratus persen dari mereka menjadikan perkenalan dengan orang tua sebagai parameter keseriusan. Saya mengenal seseorang yang berprinsip “saya harus mengenalkan perempuan itu dengan ibu saya dulu sebelum memutuskan apakah dia layak saya jadikan pacar atau tidak” what a man! Xixixixixixxiii…

*** apa? Celana dalam disposable?

Untuk Keajaibanku

•July 26, 2009 • Leave a Comment

“Ada ya yang lebih besar daripada cinta?”

Banyak orang yang nggak percaya, tapi buat gue, ada.

Heran, semua orang di dunia ini seperti nggak lelah-lelahnya mencari cinta. Padahal, cinta itu nggak perlu dicari. Ada banyak banget di sekitar kita. Dari cinta monyet, cinta gombal yang cuma di mulut aja sampai cinta sejati sepanjang masa, dari orangtua kita.

Gue merasa gak perlu mencari cinta. Selama 20 tahun hidup gue, telah dihabiskan untuk mencari hal nggak penting bernama cinta. Hasilnya, gue jadi kayak burung yang hinggap di satu pohon ke pohon lain. Sampe suatu hari gue menyadari ada yang lebih berarti daripada sekedar cinta.

Sore itu gue lagi nonton film The Perfect Man (Hillary Duff, Heather Locklear, Chris Noth). Film cewek, dan nggak banyak orang yang tau. Yang gue liat di film itu adalah, meskipun Jean (Locklear) dan Ben (Noth) memiliki hidup masing-masing selama puluhan tahun, mereka seakan2 hidup dengan cara yang sama, bahasa yang sama. They both play scrabble, menggunakan ungkapan yang sama, menyukai suasana dapur yang sama, dan seperti kata Holly (Duff); “tanpa dia bilang pun aku tau dia beranggapan bahwa bulan bukan sekedar lingkaran saja”. Tanpa bertemu sebelumnya pun Chris tahu musik dan hal-hal apa yang bisa membuat Jean bahagia.

Disitu gue berpikir, “adakah SATU untukku?”

Banyak yang bilang keinginan gue terlalu muluk dan nggak realistis. WTF, ini hidup gue! I BELIEVE THERE’S ONE FOR EVERYONE. Gue mau mencari orang tersebut, My Miracle. Sosok yang selama ini mengisi mimpi-mimpi gue dari waktu masih balita sampai sekarang. Gue nggak mencari cinta, tapi kalau ternyata ketika gue menemukan orang tersebut dan ada cinta diantara kami, itu gue anggap sebagai bonus.

Namaku Matahari. Aku cuma perempuan mellow yang mengganti tangisnya dengan keyakinan. Aku mencari keajaibanku, dan sampai kapanpun akan kucari.

— To My Miracle: If you read this, Find Me!

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.